Laporan 3 bab3
Keyword : Teknik Perencanaan Prasarana
Nomor Panggil (DDC) : D:/multi/Ps007.pdf
Keyword : Teknik Perencanaan Prasarana
Nomor Panggil (DDC) : D:/multi/Ps007.pdf
Penelitian ini bertujuan mewujudkan
pengembangan suatu model analisis tingkat pelayanan jalan yang berkaitan dengan
biaya operasi kendaraan. Pengembangan model analisis ini mengaitkan hubungan
kecepatan kendaraan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya operasi
kendaraan berdasarkan pendapat para ahli transportasi dan hubungan kecepatan
kendaraan terhadap volume capacity ratio(VCR) serta hubungan biaya operasi
kendaraan terhadap volume capacity ratio yang merupakan implementasi dari
tingkat pelayanan jalan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan
model analisis tingkat pelayanan jalan dikaitkan dengan biaya operasi kendaraan
menurut para ahli adalah (1) Total biaya operasi kendaraan menurut Morlok
{TBOK(M)} terhadap VCR, TBOK(M) = 292.07Ln 2 (VCR) + 283.76Ln(VCR) + 516.75.
(2) Total biaya operasi kendaraan menurut Tamin {TBOK(T)} terhadap VCR, TBOK(T)
= 517Ln2 (VCR) + 662.48Ln(VCR) +1346.8. (3) Total biaya operasi kendaraan
menurut Oglesby {TBOK(O)} terhadap VCR, TBOK(O) = 172.51 Ln 4 (VCR)+ 631.21 Ln3
(VCR)+1105.58 Ln2 (VCR) +584.21 Ln(VCR) +728.76. (4) Total biaya operasi
kendaraan menurut Shio-Mioshin {TBOK(S)} terhadap VCR, TBOK(S) = 318.45 Ln 2
(VCR) + 610.12 Ln(VCR) + 960.37. Pengembangan model TBOK terhadap kecepatan
dari keempat pendapat diatas, Tamin dan Shio-Mioshin memiliki pendekatan yang
lebih baik karena TBOK yang digunakan paling efisien berada pada tingkat
pelayanan A.
Perpustakaan Digital, dan Prospeknya Menuju Resource
Sharing
Oleh:
Ummi Rodliyah
A. PENDAHULUAN
Penerapan Teknologi Informasi (TI) saat ini telah menyebar hampir di semua bidang tidak terkecuali di perpustakaan. Teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar. Perkembangan dari penerapan itu dapat diukur dengan telah diterapkannya sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan akses karena berorientasi ke data digital dan jaringan komputer atau internet.
Penerapan Teknologi Informasi (TI) saat ini telah menyebar hampir di semua bidang tidak terkecuali di perpustakaan. Teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar. Perkembangan dari penerapan itu dapat diukur dengan telah diterapkannya sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan akses karena berorientasi ke data digital dan jaringan komputer atau internet.
Saat ini di lingkungan perguruan
tinggi, perpustakaan
digital diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan dan pengajaran,
penelitian serta pengabdian dan pelayanan pada masyarakat. Perubahan paradigma
dalam sistem pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi menempatkan perpustakaan
sebagai sumberdaya informasi yang sangat penting karena dimungkinkan akan
memberikan kemudahan pada civitas akademika dalam aksesibilitas informasi di
perpustakaan.Dalam era global seperti sekarang ini muncul berbagai perpustakaan
yang menerapkan Teknologi Informasi (TI). Istilah perpustakaan maya,
perpustakaan elektronik, perpustakaan digital dan sebagainya selalu menjadi
sajian sehari-hari perpustakaan. Bagi sebagian besar perpustakaan di Indonesia,
aplikasi TI seperti di negara-negara yang sudah maju merupakan suatu tantangan
harus dilaksanakan untuk mendukung tuntutan sebagian penggunanya yang
memerlukan kemudahan dan kecepatan akses dalam penelusuran informasi. Dengan
demikian muncul pertanyaan Bagaimana perpustakaan ideal yang mampu memenuhi
kebutuhan pengguna? Perpustakaan ideal yang mampu memenuhi keinginan pengguna
adalah perpustakaan yang menyediakan informasi yang memadai atau menyediakan
akses kepada berbagai sumber informasi, dapat diakses kapan saja, dimana saja
dan dipandu oleh pustakawan yang profesional. Hal ini sebagai akibat dari
perkembangan aplikasi TI dalam kehidupan masyarakat luas.
Secara teori perpustakaan mutlak
harus memakai TI agar tidak ditinggalkan sebagian pengguna jasa tersebut. Bahwa
tidak ada yang menolak pendapat tentang perlunya perpustakaan digital. Namun
harus diingat bahwa pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar perpustakaan di
Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan TI sehingga harus ada
strategi khusus. Adalah merupakan kendala bagi sebagian besar perpustakaan
bahwa digitalisasi perlu biaya yang banyak. Sebagai implementasinya,
pengembangan sebuah perpustakaan dari bentuk konvensional ke bentuk digital
memerlukan biaya yang tidak sedikit karena untuk mendigitalkan sebuah dokumen
dari bentuk cetak ke bentuk digital diperlukan beberapa tahap yaitu proses
scanning, editing, perlindungan atau keamanan, jaringan intranet serta
memerlukan pula komputer yang mempunyai performa atau kapasitas yang cukup
tinggi.
Bagai dua sisi mata uang, sebagian
besar perpustakaan kita menghadapi masalah yang dilematis antara pentingnya
digitalisasi sebagai tuntutan dan kendala biaya yang tinggi. Merupakan
alternative solusi dari masalah tersebut adalah adanya kerjasama antar
perpustakaan dan pemakaian sumber secara bersama/resource
sharing yang dalam hal tertentu dapat menghemat dana namun juga dapat
memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber informasi. Dengan resource sharing
diharapkan kualitas jasa perpustakaan semakin baik dan dapat memenuhi kebutuhan
pengguna. Resource sharing membuka cakupan informasi lebih luas tak terbatas. Hal
ini penting karena tak satupun perpustakaan di dunia yang mampu memenuhi
kebutuhan penggunanya. Perpustakaan digital mensyaratkan adanya kerjasama yang
baik antara institusi yang memiliki koleksi untuk dipakai secara bersama-sama
(resource sharing) yang pada akhirnya memberikan jalan kepada inter library
loan.
B. PENGERTIAN PERPUSTAKAAN DIGITAL
Perpustakaan Digital didefinisikan secara berbeda oleh dua kelompok, peneliti dan praktisi. Kelompok pertama menfokuskan pengertian pada akses dan temu kembali terhadap isi perpustakaan digital. Sementara kelompok kedua lebih menekankan pada aspek koleksi, pengolahan dan pelayanan perpustakaan digital. Definisi pertama datang dari para peneliti ahli komputer sementara yang terakhir datang dari para pustakawanan profesional.
Perpustakaan Digital didefinisikan secara berbeda oleh dua kelompok, peneliti dan praktisi. Kelompok pertama menfokuskan pengertian pada akses dan temu kembali terhadap isi perpustakaan digital. Sementara kelompok kedua lebih menekankan pada aspek koleksi, pengolahan dan pelayanan perpustakaan digital. Definisi pertama datang dari para peneliti ahli komputer sementara yang terakhir datang dari para pustakawanan profesional.
Pengertian perpustakaan digital atau
Digital Library terdapat berbagai pendapat. Diantara pendapat itu adalah :
seperti yang dikatakan oleh Zainal A. Hasibuan (2005), digital library atau
sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi
informasi dalam menajemen perpustakaan. Sedangkan menurut Ismail Fahmi (2004)
mengatakan bahwa perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari
perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), kolekasi elektronik,
staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan
memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi.
Definisi lain tentang perpustakaan
digital diantaranya menurut Borgman (1992) bahwa :
A digital library is combination
of:1. a service;2. an architecture;3. a set of information resources, database
of text, numbers, graphics, sound, video, etc; and 4. a set of tools and
capabilities to locate, retrieve and utilize the information resources
available (Chowdhury, 2004:5).
Dari definisi ini sepertinya tidak
terdapat perbedaan yang nyata dari definisi perpustakaan secara umum. Namun
bedanya kesemuanya dilakukan melalui proses computer dan menggunakan teknologi
digital sebagaimana definisi dari Oppenheim and Smithson :
A digital library is an information
service in which all the resources are available in computer processable form
and functions of acquisition, storage, preservation, retrieval, access and
display are carried out through the use of digital technologies (Chowdhury,
2004:5-6).
Dengan definisi ini maka sebuah
perpustakaan digital secara ideal seluruh koleksinya adalah dalam bentuk
digital dan tidak lagi melayankan bentuk konvensional. Namun banyak juga
perpustakaan yang melayankan sebagian koleksi dalam bentuk digital dengan tetap
mempertahankan koleksi yang konvensional yang banyak disebut dengan
perpustakaan Hibrida. Sebagaimana di Indonesia model perpustakaan hibrida ini
mulai banyak dikembangkan. Karena bagaimanapun bagi sebagian orang buku dalam
bentuk printed tidak dapat tergantikan oleh bentuk elektronik, yang disebabkan
juga oleh tingkat kenyamanan dalam penggunaannya.
Sebagaimana definisi dari Oppenheim
and Smithson : A Hybrid library is on the continuum between the conventional
and digital library, where electronic and paper-based information sources are
used alongside each other. (Chowdhury, 2004:6-7).
Perpustakaan Digital dapat
dikelompokkan menjadi beberapa tipe sebagai berikut:
1. Early digital libraries
2. Digital libraries of institusional publication
3. Digital libraries developments at national libraries
4. Digital libraries at Universities
5. Digital libraries of special materials
6. Digital libraries as research project
7. Digital libraries as Hybrid library project (Chowdhury, 2004:17).
1. Early digital libraries
2. Digital libraries of institusional publication
3. Digital libraries developments at national libraries
4. Digital libraries at Universities
5. Digital libraries of special materials
6. Digital libraries as research project
7. Digital libraries as Hybrid library project (Chowdhury, 2004:17).
Berdasarkan definisi-definisi di
atas bahwa perpustakaan digital pada dasarnya memiliki 3 (tiga) karakteristik
utama sebagaimana diulas Tedd dan Large (2005), yaitu :
1. Menggunakan teknologi yang mengintegrasikan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dalam sebuah jaringan yang tersebar luas.
2. Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal.
3. Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya digital yang dikembangkan bersama-sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Untuk itu perpustakaan digital merupakan integrasi berbagai institusi yang memilih, mengoleksi, mengolah, merawat, dan menyediakan informasi secara meluas keberbagai komunitas.
1. Menggunakan teknologi yang mengintegrasikan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dalam sebuah jaringan yang tersebar luas.
2. Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal.
3. Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya digital yang dikembangkan bersama-sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Untuk itu perpustakaan digital merupakan integrasi berbagai institusi yang memilih, mengoleksi, mengolah, merawat, dan menyediakan informasi secara meluas keberbagai komunitas.
Dapat dilihat dari ketiga
karekteristik tersebut selalu menekankan adanya integrasi dan keterkaitan. Ini
memang dapat dimengerti karena teknologi digital memungkinkan semua itu
terjadi. Integrasi dan keterkaitan antar berbagai jenis format data dalam
jumlah besar dan disebarkan dalam sebuah jaringan telematika global. Kata kunci
yang harus dingat adalah adanya kerjasama antar institusi. Walaupun tidak
tertulis secara eksplisit, definisi-definisi perpustakaan digital selalu
mensyaratkan adanya kerjasama yang baik antara institusi yang memiliki koleksi
untuk dipakai bersama (resource sharing).
C. PROSPEK DAN PERLUNYA PERPUSTAKAAN
DIGITAL
Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia perpustakaan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi. Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). Katalog mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet).
Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia perpustakaan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi. Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). Katalog mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet).
Pengembangan perpustakaan menuju
digital library sebenarnya bukan sekedar menyesuaikan dengan berkembangan
Teknologi informasi, tetapi lebih karena tuntutan adanya perubahan paradigma
perguruan tinggi, yang mencakup adanya peubahan paradigma dalam pembelajaran
dengan E-learning, perubahan dalam komunikasi ilmiah yang mengarah kepada
e-research, serta kebutuhan mendesak untuk menciptakan information literacy
diperguruan tinggi.
Dengan perkembangan e-learning maka
akan muncul tuntutan untuk sebuah jasa pelayanan informasi digital yang
terintegrasi dengan sistem belajar mengajar. Teknologi digital dewasa ini tealh
menawarkan berbagai kemungkinan penggabungan antara kelas, laboraturium,
perpustakaan, dan bahkan museum. Aplikasi digital tentu harus dapat menjadi bagian
dari integrasi ini. Lebih jauh integrasi ini kemudian menghasilkan sebuah
sistem pendidikan yang berbasis perpustakaan (Libary-base Education).
Beberapa Alasan akan pentingnya digital library sebagai berikut :
Beberapa Alasan akan pentingnya digital library sebagai berikut :
1. A digital Library bring
information to the user
Perpustakaan digital dapat diakses dimana saja. Kalau biasanya user datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi, maka perpustakaan digital yang mengantarkan/membawa informasi itu kepada pengguna kapanpun mereka membutuhkan.
Perpustakaan digital dapat diakses dimana saja. Kalau biasanya user datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi, maka perpustakaan digital yang mengantarkan/membawa informasi itu kepada pengguna kapanpun mereka membutuhkan.
2. Improved searching and
manipulation of information
Perpustakaan digital menawarkan berbagai macam cara penelusuran dan temukembali yang canggih dengan menyediakan database secara elektronik sehingga memudahkan kepada pengguna untuk akses informasi.
Perpustakaan digital menawarkan berbagai macam cara penelusuran dan temukembali yang canggih dengan menyediakan database secara elektronik sehingga memudahkan kepada pengguna untuk akses informasi.
3. Improved facilities for
information sharing
Dengan koleksi digital, perpustakaan memberikan fasilitas kemudahan untuk sharing information baik antara pengguna maupun antar perpustakaan. Perpustakaan digital juga membuka kesempatan dan memudahkan jalan untuk kerjasama dengan perpustakaan lain.
Dengan koleksi digital, perpustakaan memberikan fasilitas kemudahan untuk sharing information baik antara pengguna maupun antar perpustakaan. Perpustakaan digital juga membuka kesempatan dan memudahkan jalan untuk kerjasama dengan perpustakaan lain.
4. Timely access to information
Perpustakaan digital membantu pengguna mendapatkan informasi yang mutakhir. Perpustakaan digital memungkinkan untuk dapat mengakses dengan mudah informasi-informasi berseri (periodical colection) dengan digital publishing.
Perpustakaan digital membantu pengguna mendapatkan informasi yang mutakhir. Perpustakaan digital memungkinkan untuk dapat mengakses dengan mudah informasi-informasi berseri (periodical colection) dengan digital publishing.
5. Improved use of information
Perpustakaan digital tidak dibatasi lagi oleh waktu, tempat, bahasa, dan budaya, sehingga lebih memudahkan penggunaan informasi. Informasi yang beragam dari berbagai belahan dunia dengan beragam bahasa, dan berbagai budaya memudahkan penelusuran.
Perpustakaan digital tidak dibatasi lagi oleh waktu, tempat, bahasa, dan budaya, sehingga lebih memudahkan penggunaan informasi. Informasi yang beragam dari berbagai belahan dunia dengan beragam bahasa, dan berbagai budaya memudahkan penelusuran.
6. Improved collaboration
Penelitian di Universitas California menunjukkan bahwa fasilitas perpustakaan digital mampu memperbaiki kerjasama antar penggunanya. Proses ini akan memperbaiki penyebaran dan penggunaan informasi.
Penelitian di Universitas California menunjukkan bahwa fasilitas perpustakaan digital mampu memperbaiki kerjasama antar penggunanya. Proses ini akan memperbaiki penyebaran dan penggunaan informasi.
7. Reduction of the digital divide
Adanya internet di dunia telah menimbulkan adanya gab/kesenjangan diantara bangsa-bangsa di dunia dari segi infrastruktur, fasilitas dan sumberdaya. Kehadiran Perpustakaan digital dapat meminimalisir adanya kesenjangan itu. (Chowdhury, 2004:10-11).
Adanya internet di dunia telah menimbulkan adanya gab/kesenjangan diantara bangsa-bangsa di dunia dari segi infrastruktur, fasilitas dan sumberdaya. Kehadiran Perpustakaan digital dapat meminimalisir adanya kesenjangan itu. (Chowdhury, 2004:10-11).
Bagi perpustakaan, digitalisasi
koleksi adalah salah satu solusi mengatasi ketertinggalannya. Hal ini akan
menjadi salah satu media yang tepat untuk melakukan transfer pengetahuan.
Beberapa keuntungan konkret yang didapatkan dari digitalisasi ini adalah :
1. Kecepatan pencarian sumber. Dalam hal ini, konsep yang paling penting adalah untuk melakukan pencarian (searching). Perpustakaan Digital harus mengintegrasikan konsep searching. Pada perpustakaan manual, proses pencarian dapat dilakukan melalui katalog. Namun dengan perkembangan teknologi, hal tersebut sudah tidak sesuai dengan keinginan pengguna.
1. Kecepatan pencarian sumber. Dalam hal ini, konsep yang paling penting adalah untuk melakukan pencarian (searching). Perpustakaan Digital harus mengintegrasikan konsep searching. Pada perpustakaan manual, proses pencarian dapat dilakukan melalui katalog. Namun dengan perkembangan teknologi, hal tersebut sudah tidak sesuai dengan keinginan pengguna.
2. Membangun citra perpustakaan
kepada publik. Dengan citra yang baik, ketertarikan pengunjung akan meningkat.
3. Biaya yang makin murah. Memang
pada awalnya, diperlukan investasi untuk membangun portal. Namun untuk jangka
panjang, hal ini sangat menguntungkan bagi perpustakaan dan pengguna. Dalam
berbagai kasus, penggunaan portal dalam berbagai perusahaan ternyata dapat memberikan
penghematan luar biasa. Penggunaan teknologi informasi telah memberikan
kemudahan dan penghematan kepada penggunanya. Termasuk penghematan biaya
perawatan koleksi.
4. Kemudahan membangun jaringan.
Jaringan yang luas sangat penting bagi perkembangan perpustakaan. Dengan adanya
jaringan antar perpustakaan, maka akan memberi keuntungan kepada dua pihak,
yaitu pengguna dan perpustakaan. Para pengguna jasa perpustakaan akan lebih
mudah mendapatkan informasi dari berbagai perpustakaan yang terhubung dalam
jaringan tersebut. Sedangkan pihak perpustakaan mendapatkan keuntungan dengan
adanya transfer informasi antara perpustakaan.
Dari sekian alasan akan pentingnya
perpustakaan digital maka alasan yang paling penting sebenarnya adalah untuk
memudahkan penelusuran informasi, dengan tersedianya full-text database
memungkinkan menelusur dengan menggunakan kata kunci dari kata yang tersedia.
Koleksi tidak pernah habis dipakai. Dalam bentuk digital, copy dari data tetap
sebaik dan seoriginal bentuk aslinya. Koleksi digital selalu siap kapanpun user
membutuhkan tidak ada kata Off-self berapapun banyak pemakainya. (Lesk, 2001).
Pengembangan perpustakaan digital
atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di
perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses
pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi sistem otomasi
perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi
layanan secara otomatis/terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan
dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan
menggunakan catalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun
internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana
pun ia berada.
D. MENUJU RESOURCE SHARING
Merupakan kenyataan bahwa internet memiliki persediaan informasi yang luar biasa besar dan bernilai tinggi sebagai bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Namun perlu diingat bahwa informasi yang terdapat di internet sangat berlimpah dan beragam, sehingga perlu keahliah khusus untuk mendapatkan informasi yang berkualitas. Beberapa persoalan yang muncul adalah : apakah informasi dan artikel yang diterbitkan oleh situs sudah melalui proses seleksi yang baik?, apakah situs tersebut memiliki otoritas untuk mendiskusikan topik bidang ilmu tertentu.
Merupakan kenyataan bahwa internet memiliki persediaan informasi yang luar biasa besar dan bernilai tinggi sebagai bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Namun perlu diingat bahwa informasi yang terdapat di internet sangat berlimpah dan beragam, sehingga perlu keahliah khusus untuk mendapatkan informasi yang berkualitas. Beberapa persoalan yang muncul adalah : apakah informasi dan artikel yang diterbitkan oleh situs sudah melalui proses seleksi yang baik?, apakah situs tersebut memiliki otoritas untuk mendiskusikan topik bidang ilmu tertentu.
Pada kondisi tersebut perpustakaan
dituntut untuk mampu menyeleksi apa yang relevan dan tidak relevan untuk dibaca
dan didiskusikan. Kelahiran dan pertumbuhan jurnal merupakan upaya kaum ilmuwan
untu memastikan agar para peneliti dapat saling bertukar pikiran tentang
temuan-temuan mereka. Isi jurnal dianggap memiliki otoritas yang sah sebagai
wacana sebuah bidang ilmu tertentu. Sementara dewasa ini telah banyak
bermunculan jurnal-jurnal elektronik diberbagai disiplin ilmu.
Kalau perpustakaan dan penyedia
informasi yang berkualitas itu dapat bekerjasama, maka pustakawan tidak harus
kuatir salah dalam menyediakan informasi. Hal inilah yang menyebabkan beberapa
negara mencoba menghidupkan klaborasi antara perpustakaan dengan penyedia
informasi lokal maupun internasional. Misalnya di Jerman ada portal Vascoda
(http://www.vascoda.de/), di Amirika Serikat ada Scholars Portal yang
digerakkan American Researh Libraries (ARL) dalam bentuk konsorsium untuk membantu
perpustakaan perguruan tinggi menghimpun informasi bermanfaat bagi kegiatan
akademik dan penelitian (http://www.org/access/scolarsportal/). Di Inggris ada
the Resource Discovery Network (RDN) (http://www.rdn.ac.uk) (Pendit, 2007:146).
Walaupun perpustakaan telah mampu
melakukan kerjasama tersebut namun kemampuan perpustakaan untuk membuat system
temu kembali informasi (information retrieval systems) belum memadai dan banyak
proyek yang masih berfokus pada meta data yang merujuk ke sumber informasi dan
bukan mencari langsung ke isi situs di internet.
Portal-portal yang dibuat di
perpustakaan memang masih didominasi oleh catalog dan database e-book atau
jurnal, serta dokumen hasil karya akademis. Isi lainnya adalah daftar link ke
sumber-sumber informasi digital. Sementara untuk system IR-nya, masih
mengandalkan pencarian berdasarkan meta data. Persoalannya masing-masing sitem
seringkali memiliki kinerja yang berbeda sehingga portal perpustakaan terkesan
lambat.
Jika perpustakaan ingin menghimpun
informasi yang terletak diluar maka harus siap melakukan koneksi dengan
berbagai sistem koputer yang digunakan berbagai institusi. Sistem-sistem itu
harus memungkinkan untuk pertukaran data dalam kondisi kekinian (real time).
Untuk itu perpustakaan harus memperhatikan 6 (enam) macam kesepakatan
sebagaimana diulas oleh Tedd dan Large, yaitu :
1. Tecnical interoperability (kesepakatan Teknis), yaitu kesamaan dalam penggunaan prosedur dan mekanisme perangkat keras, lunak, protokol komunikasi, transpor data, tata cara penyimpanan dan pembuatan indeks, dan lain-lain.
2. Semantic interoperability (kesepakatan semantik), standart penggunaan istilah dalam pengindeksan dan temu kembali.
3. Political/human interoperability (kesepakatan politik) : keputusan untuk berbagi bersama dan bekerjasama.
4. Intercomunity interoperability (kesepakatan antar komunitas pemakai) : kesepakatan untuk berhimpun antar institusi dan beragam displin ilmu.
5. Legal interoperability (kesepakatan hukum) peraturan perundang-undangan tentang akses ke koleksi digital, termasuk soal hak intelektual.
6. International interoperability (Kesepakatan Internasional) standart yang memungkinkan kerjasama internasional, kemungkinan lembaga negara lain memiliki spesifikasi, prosedur, teknis dan hukum yang berbeda. (Pendit, 2007:148, 285).
1. Tecnical interoperability (kesepakatan Teknis), yaitu kesamaan dalam penggunaan prosedur dan mekanisme perangkat keras, lunak, protokol komunikasi, transpor data, tata cara penyimpanan dan pembuatan indeks, dan lain-lain.
2. Semantic interoperability (kesepakatan semantik), standart penggunaan istilah dalam pengindeksan dan temu kembali.
3. Political/human interoperability (kesepakatan politik) : keputusan untuk berbagi bersama dan bekerjasama.
4. Intercomunity interoperability (kesepakatan antar komunitas pemakai) : kesepakatan untuk berhimpun antar institusi dan beragam displin ilmu.
5. Legal interoperability (kesepakatan hukum) peraturan perundang-undangan tentang akses ke koleksi digital, termasuk soal hak intelektual.
6. International interoperability (Kesepakatan Internasional) standart yang memungkinkan kerjasama internasional, kemungkinan lembaga negara lain memiliki spesifikasi, prosedur, teknis dan hukum yang berbeda. (Pendit, 2007:148, 285).
Dari daftar kesepakatan tersebut
terlihat bahwa sambungan ke internet saja tidak cukup bagi perpustakaan.
Koneksi ke internet dan penggunaan sistem informasi berbantuan komputer hanya
dapat bermanfaat jika ada 5 kesepakatan berikutnya. Kesepakatan semantik
menyebabkan perlunya perpustakaan mempunyai peraturan-peraturan pengindeksan,
metadata, dan katalogisasi yang kesemuanya memungkinkan terciptanya union
catalog. Berdasarkan katalog bersama inilah kemudian dikembangkan resource sharing.
Dalam rangka mewujudkan kerjasama
ini, kehadiran manajemen perubahan (change management) merupakan bagian dan
kebutuhan mutlak bagi pengembangan perpustakaan digital. Salah satu hal utama
dalam manajemen perubahan itu adalah pembuatan kebijakan yang menyangkut banyak
hal non teknis.
Kedua praktek lama kepustakawanan
ini (union Catalog dan resource sharing) adalah pondasi bagi perpustakaan
digital. Namun karena perkembangan teknologi yang begitu cepat, maka praktek
lama tersebut harus dikembangkan lebih luas lagi. Saat ini tidaklah cukup
bertukar data katalog, tidak pula cukup hanya menggunakan sistem informasi
untuk mendata peminjaman antar perpustakaan. Potensi teknologi telematika
memungkinkan berbagai lembaga bertukar data, informasi, pengetahuan dan
pengalaman. Untuk itu tentunya kepustakawanan harus mengubah berbagai cara
pikir dan praktek kerja agar dapat menciptakan berbagai kesepakatan sebagaimana
dibahas diatas.
Perkembangan perpustakaan digital di
Indonesia, jika dilihat dari sisi teknologi maka sejak tahun 2004 sampai saat
ini telah terjadi perkembangan yang menggembirakan khususnya di lingkungan
perguruan tinggi, karena mereka sudah mereka sudah memiliki sistem perpustakaan
digital yang memadai, terutama bagi kepentingan lokal. Bahkan beberapa
perguruan tinggi sudah memilki sistem teknologi yang memungkinkan komunikasi
dan pertukaran data secara efisien melalui jaringan internet. Kondisi teknis
beberapa perpustakaan digital perguruan tinggi itu dapat terlihat dari Tabel
berikut ini :
perpustakaan digital perguruan
tinggi
Dari kondisi yang tergambar pada
tabel di atas terdapat 2 (dua) hal yang memungkinkan berkembangnya perpustakaan
digital di Indonesia yaitu :
1. Beberapa Perguruan Tinggi
menggunakan perangkat lunak yang sama atau dibangun berdasarkan sistem database
yang sama.
2. Ada upaya dari pihak pengembang
untuk menggunakan arsitektur informasi yang memungkinkan pertukaran data secara
lebih leluasa walaupun perangkat lunaknya berbeda.
Jika berbagai perpustakaan digital Perguruan Tinggi Indonesia bermaksud menfasilitasi pemanfaatan sumberdaya secara bersama-sama (resource sharing), maka dua hal yang mutlaq harus dikembangkan adalah katalog induk melalui internet (Online union catalog) yang terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu : Katalog Koleksi Buku dan Katalog Koleksi Local Content (tesis dan desertasi). Dimana keduanya memberikan informasi dasar mengenai data bibliografi, lokasi, dan ketersediaan. Di Lingkungan Perguruan tinggi Agama Islam di Indonesia sedang dirintis pembentukan katalog induk yang telah tergabung sebanyak 16 (enam belas) PTAIN se Indonesia dalam Indonesian Islamic Bibliographic Network (IIBN).
Jika berbagai perpustakaan digital Perguruan Tinggi Indonesia bermaksud menfasilitasi pemanfaatan sumberdaya secara bersama-sama (resource sharing), maka dua hal yang mutlaq harus dikembangkan adalah katalog induk melalui internet (Online union catalog) yang terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu : Katalog Koleksi Buku dan Katalog Koleksi Local Content (tesis dan desertasi). Dimana keduanya memberikan informasi dasar mengenai data bibliografi, lokasi, dan ketersediaan. Di Lingkungan Perguruan tinggi Agama Islam di Indonesia sedang dirintis pembentukan katalog induk yang telah tergabung sebanyak 16 (enam belas) PTAIN se Indonesia dalam Indonesian Islamic Bibliographic Network (IIBN).
Langkah selanjutnya yang dapat
dikembangkan setelah adanya Onlie union catalog adalah mengupayakan
ketersediaan informasi yang meluas agar terjadi komunikasi ilmiah yang intensif
dan saling menguntungkan diantara civitas akademika. Penyediaan abstrak bagi
koleksi karya penelitian, tesis, dan disertasi dalam digital yang dapat diakses
bersama, tentunya akan memberikan kemudahan dan peningkatan jasa pinjam antar
perpustakaan (interlibrary loan). Namun tetap harus diingat akan perlunya
kesepakatan-kesepakatan (interoperobelity) dalam hal pertanggungjawaban
pengguna, hak menurunmuat/mengunduh (download) koleksi digital, dan tata cara
pengiriman (document delivery).
Secara umum teknologi perpustakaan
perguruan tinggi di Indonesia memungkinkan untuk untuk integrasi menjadi sebuah
jaringan digital yang tersebar luas. Namun hal ini baru merupakan potensi
teknologi. Untuk mengubah potensi ini menjadi manfaat, maka perpustakaan digital
harus mampu memberikan nilai bagi civitas akademika dan berperan dalam
peningkatan kualitas dan peringkat universitas yang bersangkutan. Hal ini
tentunya dengan memperhatikan prinsip-prinsip interoperobelity di atas.
E. PENUTUP
Terdapat tiga kata kunci dalam pengertian perpustakaan digital, yaitu integrasi, keterkaitan, dan kerjasama. Integrasi dan keterkaitan antara berbagai format data dalam jumlah besar dan disebarkan melalui jaringan telematika global. Kerjasama antar perpustakaan dan penyedia informasi sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas masyarakat, lebih dari itu kerjasama merupakan kebutuhan dan keharusan dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan informasi secara bersama-sama (resource sharing) karena tak satupun perpustakaan di dunia yang mampu memenuhi kebutuhan penggunanya. Untuk keperluan kerja sama itulah telah dikembangkan prinsip-prinsip baru sebagai suatu kesepakatan yang dikenal dengan 6 (enam) prinsip interoperobelity.
Terdapat tiga kata kunci dalam pengertian perpustakaan digital, yaitu integrasi, keterkaitan, dan kerjasama. Integrasi dan keterkaitan antara berbagai format data dalam jumlah besar dan disebarkan melalui jaringan telematika global. Kerjasama antar perpustakaan dan penyedia informasi sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas masyarakat, lebih dari itu kerjasama merupakan kebutuhan dan keharusan dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan informasi secara bersama-sama (resource sharing) karena tak satupun perpustakaan di dunia yang mampu memenuhi kebutuhan penggunanya. Untuk keperluan kerja sama itulah telah dikembangkan prinsip-prinsip baru sebagai suatu kesepakatan yang dikenal dengan 6 (enam) prinsip interoperobelity.
Aplikasi Perpustakaan Digital
akhirnya melahirkan peran baru bagi perpustakaan. Potensi teknologi telematika
ini dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat pengguna, dan
konsentrasi para pustakawan di era digital ini bukanlah pada upaya mengejar
teknologi melainkan pada bagaimana menjadi mitra yang sesungguhnya dalam
kehidupan perguruan tinggi yang berubah cepat. Melalui penerapan konsep
perpustakaan digital dan perubahan peran inilah para pustakawan sebenarnya
sedang memastikan diri bahwa profesi mereka tetap diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad. Integrasi Perpustakaan Pusat
dan Rung Baca Untuk resource sharing.
http://www.lurik.its.ac.id/latihan/INTEGRASI%20PERPUSTAKAAN%20PUSAT%20
Chowdhury, GG. 2004. Introduction to Digital Libraries. London : Facet Publiching.
Development of Digital libraries : an Amirican Perspective. 2001. Edited by Deanna B.Marcum. London : Greenwood Press.
Chowdhury, GG. 2004. Introduction to Digital Libraries. London : Facet Publiching.
Development of Digital libraries : an Amirican Perspective. 2001. Edited by Deanna B.Marcum. London : Greenwood Press.
Pendit, Putu Laxman. 2007.
Perpustakaan Digital : perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia.
Jakarta : Sagung Seto.
Pudjiono, 2006. Membangun Citra:
Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia Menuju Perpustakaan Bertaraf
Internasional. http://www.lib.ui.ac.id /files/Pudjiono.pdf
Surachman, Arif. 2007. Membangun
Koleksi Digital. http://www.arifs.staff.ugm.
ac.id/mypaper/Dig_coll_Building.doc.
Wahono, Romi Satria. 2006. Teknologi
Informasi untuk Perpustakaan: Perpustakaan Digital dan Sistem Otomasi
Perpustakaan.1http://72.4.235.104
/search?q=cache:x6xx8yjPlwAJ:www.ilmukomputer.org/wpcontent/uploads/2006/09/romi-otomasiperpustakaan
Sumber: Visi Pustaka, Vol.14 No.1 – April
2012

ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق