PENDAHULUAN
Kecenderungan menggunakan teks
secara elektronik terus meningkat dari hari ke hari. Merujuk pengalaman di
berbagai perpustakaan (terutama negara-negara maju) menunjukkan bahwa mayoritas
pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan “electronic format” dari pada
teks secara konvensional,(printed materials) khususnya untuk koleksi jurnal
(SWEETLAND, 2002 ). Kecenderungan ini tentunya akan merubah model manajemen
yang dikembangkan di perpustakaan yaitu dari sistem konvensional menuju ke sistem yang lebih modern.
Persoalannya adalah bagaimana
kita bisa mengembangkan manajemen perpustakaan modern, sementara kondisi
objektif perpustakaan di Indonesia
rata-rata masih memprihatinkan. Misalnya tentang anggaran yang sangat kecil,
kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan sarana dan prasarana yang
terbatas.
Kondisi ini
tentunya tidak menjadikan kita (pustakawan) menjadi pesimistis , tidak
bersemangat dan putus asa. Kita harus berusaha untuk mengoptimalkan, baik itu
sumber dana, sumber daya manusia dan fasilitas lain yang tersedia, untuk
meningkatkan layanan perpustakaan.
Penulis akan
mencoba untuk membahas bagaimana membangun perpustakaan digital dengan melihat
kondisi objektif yang ada dilingkungan kita.PENGERTIAN PERPUSTAKAAN DIGITAL
Di dalam era
informasi dimana INTERNET merupakan media yang mudah dimanfaatkan di seluruh
pelosok dunia, istilah Digital Library (Perpustakaan Digital), E-Library
(Perpustakaan Elektronik), dan Virtual Library (Perpustakaan Maya) mulai sering
kita dengar dan menjadi perbendaharaan kosa kata baru dalam bahasa kita. Ketiga
istilah tersebut mempunyai konotasi yang sama yaitu merujuk pada perpustakaan
yang tidak berujud. Dalam makalah ini penulis akan mengutip salah satu definisi
tentang E-Library.
E- Library is a
comprehensive digital for information seekers of all ages. Users can do
business research, use it for homework, get background materials for term
papers, find out about both current and historical events, and more, all in one
vast database designed for both depth of content and simplicity of interface.(
http://ask.elibrary.com/index.asp)
Kata kunci dari
definisi di atas adalah “a comprehensive digital for information seekers” yang
mempunyai arti digital secara menyeluruh untuk pencari informasi. Jadi yang
di”digitalkan” ,dalam konteks perpustakaan, tidak hanya data bibliografi dan
layanannya, tetapi menyangkut semua aspek termasuk isinya (full text).
MANFAAT PERPUSTAKAAN DIGITAL
Seperti sudah
disebutkan di atas bahwa pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan format
secara elektronik daripada secara tradisional. Sebetulnya manfaat perpustakaan
digital tidak hanya dirasakan oleh pengguna perpustakaan tetapi juga dapat
dirasakan oleh pustakawan atau staf perpustakaan. Adapun manfaat yang dapat
diperoleh dengan adanya perpustakaan digital adalah sebagai berikut :
Bagi Pengguna
Perpustakaan :
- mengatasi keterbatasan waktu
- mengatasi keterbatasan tempat
- memperoleh informasi yang paling baru dengan cepat
- mempermudah akses informasi dari berbagai sumber
- mempermudah untuk memindah dan merubah bentuk untuk kepentingan presentasi dsb.
Bagi Pustakawan
- memperingan pekerjaan
- meningkatkan layanan
- tidak memerlukan gedung dan ruang yang besar
- menumbuhkan rasa bangga
FAKTOR-FAKTOR YANG
PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DIGITAL
Banyak faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam membangun perpustakaan digital. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan, antara lain :
1. Analisa
kebutuhan (Need Analysis)
Dalam tahap
awal pertanyaan yang muncul adalah
apakah perpustakaan digital memang diperlukan. Untuk menjawab
pertanyaan ini
tidak dapat dijawab hanya berdasarkan perkiraan semata tetapi harus
diadakan
studi untuk menentukan kebutuhan yang disebut dengan analisis kebutuhan
(Need Analysis). Apabila analisa kebutuhan sudah
dilakukan dan jawabannya adalah
positif, maka tahap berikutnya adalah menentukan tujuan.
Tujuan ini harus
didasarkan pada visi dan misi perpustakaan serta lembaga
induknya.
Masing-masing perpustakaan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama
lain
tergantung pada kondisi masing-masing perpustakaan.
2. Studi
Kelayakan (Feasibility Study)
Apabila
penentuan kebutuhan dan tujuan sudah dilakukan, maka tahap berikutnya adalah
melakukan studi kelayakan (Soekartawi,
2003), yang penilaiannya meliputi komponen sebagai berikut :
- Technically feasible (apakah secara teknis layak). .
- Economically profitable (apakah secara ekonomi menguntungkan).
- Socially acceptable (secara sosial dapat diterima).
2. 1.
Technically feasible (apakah secara teknis layak)
Kelayakan secara teknis ini menjadi faktor penentu dalam membangun
perpustakaan digital, karena perpustakaan digital itu memerlukan infrastruktur
dan tenaga yang memadai seperti adanya provider untuk internet, hardware
(perangkat keras) dan software (perangkat lunak), jaringan telepon, listrik
serta tidak kalah pentingnya adalah tersedianya tenaga teknis yang dapat
mengoperasikannya.
2.2. Economically profitable (apakah secara
ekonomi menguntungkan)
Ukuran yang dipakai dalam perhitungan aspek ekonomi tidak harus dihitung dari berapa laba yang akan
diperoleh, melainkan sejauh mana pengaruh perpustakaan digital yang akan kita
bangun terhadap efektifitas dan efisiensi layanan perpustakaan.
2.3. Socially acceptable (apakah secara sosial
dapat diterima)
Apakah secara sosial pembangunan perpustakaan digital tersebut dapat
diterima oleh pengguna perpustakaan dan staf perpustakaan ? Pertanyaan ini
tentunya harus dijawab, sebelum kita melaksanakan digitalisasi perpustakaan.
Sekalipun secara teknis layak dan secara ekonomis menguntungkan, belum ada
jaminan bahwa pelaksanaan pembangunan digital perpustakaan passti berhasil
tanpa memperhitungkan aspek sosial. Oleh karena itu sebelum program
perpustakaan digital dijalankan sebaiknya ada program sosialisasi terlebih
dahulu. Analisa aspek social ini juga dapat menyangkut aspek hukum. Kita harus
tetap menjunjung tinggi hukum terutama yang menyangkut Undang-Undang Hak Cipta.
Misalnya kita tidak diperkenankan dengan bebas me”scan” buku-buku yang dimiliki
oleh perpustakaan untuk selanjutnya kita masukkan dalam database tanpa seijin
pemilik hak ciptanya.
3. Memilih software
Pemilihan
software hanya diperlukan apabila kita ingin membangun database untuk
kepentingan perpustakaan digital (sebagai penyedia informasi), namun apabila
kita hanya ingin membangun perpustakaan digital sebagai konsumen (memanfaatkan
perpustakaan digital yang sudah ada), maka pemilihan software tidak menjadi
penting. Kreteria pemilihan software untuk database antara lain meliputi :
3.1. Access Points
Software yang baik adalah software yang memiliki access points yang
banyak paling tidak data yang kita miliki itu dapat ditelusur melalui judul,
pengarang, dan subjek atau kombinasi dari ketiganya.
3.2.User Friendly
User friendly mempunyai arti bahwa software yang seharusnya dipilih
adalah software yang mudah digunakan tanpa memerlukan waktu pelatihan yang lama, begitu komputer dibuka para pengguna dapat
berinteraksi dengan mudah dan cepat walupun hanya latihan sebentar.
3.3.Sustainability
Membangun perpustakaan digital berarti membangun untuk jangka panjang.
Supaya investasi yang ditanamkan tidak terbuang sia-sia, maka perlu
dipertimbangkan dengan hati-hati tentang keberlanjutan software yang kita beli.
Sebaiknya membeli software bukan dari perorangan melainkan dari lembaga yang
professional.
3.4.Price
Umumnya kita akan menghadapi delima dalam mempertimbangkan harga.
Software yang baik biasanya harganya relatif mahal, sementara software yang
murah/gratis biasanya kurang dapat
memuaskan kebutuhan kita.
4. Pelaksanaan
Dalam tahap ini,
khususnya untuk pembentukan database, harus mempunyai prioritas. Prioritas ini
tergantung pada masing-masing perpustakaan. Penulis menyarankan untuk memulai
pembentukan databse dari produk-produk local, seperti hasil penelitian , hasil
pengabdian masyarakat, tesis, diesrtasi, skripsi dan jurnal ilmiah yang
diterbitkan oleh lembaga-lembaga di sekeliling kita.
5. Evaluasi
Seperti pada
program dan kegiatan perpustakaan lainnya, evaluasi untuk pembangunan
perpustakaan digital harus selalu dilakukan secara terus menerus dalam suatu
periode tertentu untuk mengetahui apakah tujuan yang telah kita canangkan sudah
tercapai dan apakah program tersebut dapat memuaskan pengguna perpustakaan.
Tingkat kepuasan pengguna perpustakaan harus selalu kita monitor dan hasil dari
monitoring dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan apakah
program perpustakaan digital perlu diteruskan, disempurnakan atau dibatalkan.
PENUTUP
Di Indonesia,
keberadaan perpustakaan digital belum akan akan mengganti keberadaan
perpustakaan konvensional. Keberadaannya sebagai pelengkat dan penambah nilai
dari perpustakaan yang sudah ada.
Membangun
perpustakaan digital bukan suatu pekerjaan yang mudah. Perencanaan dan studi
kelayakan secara teknis, ekonomis, dan social harus dilakukan. Namun demikian apabila kita berhasil membangun
perpustakaan digital secara baik, niscaya citra perpustakaan akan semakin
meningkat. Citra yang baik harus kita upayakan secara terus menerus, agar
supaya perpustakaan dapat meningkatkan kepercayaan dari pihak-pihak yang
berkepentingan terutama pihak pimpinan unibersitas/akademi. Kalau tingkat
kepercayaan dari pihak yang berkepentingan terhadap perpustakaan sudah tinggi,
maka apapun program yang diusulkan kepada pihak universitas/akademi akan mudah
disetujui.
REFERENSI
- Ackerman, Mark S. Providing Social Interaction in the Digital Library
- Linggawati, Henny dan Widiawan, Kriswanto. Komersialisasi dan Perlindungan Produk/Jasa E-Library ( disampaikan pada Seminar Nasional “E-Learning Perlu E-Library” di Universitas Kristen Petra Subaya pada tgl. 3 Februari 2003)
- McMillan, Gail. (Digital) Libraries Support (Distributed) Education. (presented at ACRL Nastional Conference, Detroit, April 9, 1999)
http://www.ala.org/acrl/mcmill.html (3/21/03)
- Sawyer, Susan K. Elektronic books : their definition, usage and role in libraries.
- Soekartawi. E-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang (disampaikan pada Seminar Nasional “E-Learning Perlu E-Library” di Universitas Kristen Petra Subaya pada tgl. 3 Februari 2003.)
- Stackpole, Laurie E. and Hooker, Ruth H. Electronic Journal as a Component of the Digital Library. Issues in Science and Technology Librarianship, Spring 1999.
http://www.istl.org/99-spring/article1.html.
(2/11/03)
- Sweetland, James H. Electronic Text: How Do We Manage ? Library Collection Development & Management, July 2002.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق