Ø Pendahuluan
Makalah ini ditulis sebagai bahan ceramah dalam acara
”............................." yang bertujuan untuk mempersiapkan
SDM sebagai calon pustakawan profesional dalam era informasi, makalah ini
disusun dari tiga arah. Pertama, sekilas mengkaji kegiatan Pengelolaan
Perpustakaan dengan sistem Komputerisasi perpustakaan; kedua, membahas
perkembangan teknologi informasi; dan ketiga mempertemukan tuntutan pelayanan
perpustakaan yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi. Dalam makalah
ini, istilah teknologi informasi diartikan sebagai perpaduan antara teknologi
komputer dan teknologi komunikasi.
Dalam rangka meningkatkan pengelolaan dan layanan
perpustakaan dan agar perpustakaan tidak ditinggalkan penggunanya, sudah
merupakan tugas bagi perpustakaan mulai menerapkan teknologi modern dalam
berbagai aspek untuk membantu sistem layanannya. Karena itu perpustakaan dapat
mulai menerapkan sistem otomasi untuk berbagai kegiatan dan transaksi layanan
perpustakaan. Selanjutnya perpustakaan
harus mulai merintis langkah-langkah untuk menuju layanan perpustakaan digital.
Ø Otomasi Perpustakaan
Ketika
kita berbicara soal perpustakaan dan teknologi informasi, kita akan dihadapkan
pada dua istilah yang berbeda yaitu otomasi perpustakaan dan perpustakaan
elektronik. Keduanya memiliki arti dan fungsi yang berbeda.
Otomasi
perpustakaan adalah sebuah sistem informasi yang diterapkan dalam sistem
pelayanan di perpustakaan sehingga beberapa pekerjaan dapat dilakukan secara
otomatis dengan bantuan teknologi informasi tersebut. Beberapa fungsi yang
dijalankan dalam otomasi perpustakaan adalah: pencarian buku di database
katalog, peminjaman, pengembalian, pemesanan, pembuatan laporan dan statistik,
dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini pada dasarnya adalah fungsi perpustakaan
untuk melayani anggotanya. Dengan demikian otomasi perpustakaan ditujukan untuk
membatu pelaksanaan pekerjaan pustakawan sehari-hari.
Sedangkan
perpustakaan elektronik adalah sebuah bentuk lain dari perpustakaan yang
koleksinya memiliki format elektronik atau digital. Dokumen, kaset audio,
video, peta, dan semua jenis koleksi perpustakaan pada umumnya, disimpan dalam
format elektronik. Koleksi-koleksi tersebut disimpan dalam ‘rak-rak’ elektronik
yang secara fisik ukurannya sangat kecil dibandingkan dengan ruangan untuk
menyimpan buku-buku di perpustakaan biasa. Yaitu disimpan dalam hard disk server
komputer yang berperan sebagai server perpustakaan elektronik. Perpustakaan
elektronik biasanya tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan jaringan komputer
untuk mengakses koleksi di server. Hal ini lah yang menjadi salah satu
keunggulan dari perpustakaan elektronik sehingga pengguna dapat mengakses
koleksi sebuah perpustakaan elektornik tanpa harus berkunjung ke lokasinya
secara fisik, namun cukup dengan mengaksesnya lewat jaringan komputer atau
internet. Secara fisik pengunjung bisa berada di manapun asal terdapat akses ke
server perpustakaan digital. Di sini tidak ada istilah ‘meminjam’ buku, tetapi
yang ada adalah ‘mendownload’, mengakses, memainkan, mengupload, dan searching
Namun yang masih menjadi kendala pengembangan
perpustakaan elektronik adalah ketersediaan koleksi dalam bentuk elektronik,
jalur internet yang lambat, dan masih sedikitnya masyarakat yang memiliki
komputer dan akses ke internet.
Otomasi perpustakaan dilaksanakan untuk memenuhi
kebutuhan pengguna perpustakaan tentang informasi yang semakin kompleks, baik
kualitas maupun kuantitasnya. Pengguna ingin memperoleh pelayanan secara cepat,
tepat dan akurat. Otornasi perpustakaan juga dilaksanakan dalam rangka
meningkatkan kinerja dan perpustakaan, sehingga perpustakaan dapat memiliki
daya saing dengan perpustakaan lainnya, dengan menonjolkan segi kepraktisan,
kemudahan, kecepatan dan keakuratan dalam pelayanannya.
Perpustakaan diharapkan mampu memenuhi dan mengantisipasi
kebutuhan pengguna pada era globalisasi, dimana informasi dengan mudah menyebar
keseluruh penjuru dunia dalam waktu sekejap. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan
pengguna di bidang kualitas informasi, kecepatan dan keakuratan informasi yang
disampaikan, maka perpustakaan akan ketinggalan dan ditinggalkan oleh
penggunanya.
Pelaksanaan otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara
bertahap oleh suatu perpustakaan, mulai dari proses pengadaan koleksi,
pengolahan dan pelayanan perpustakaan. Tahap-tahap tersebut dapat berbeda
antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, tergantung pada prioritas
perpustakaan yang bersangkutan.
Pelaksanaan otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara
bertahap oleh suatu perpustakaan, mulai dari proses pengadaan koleksi,
pengolahan dan pelayanan perpustakaan. Tahap-tahap tersebut dapat berbeda
antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, tergantung pada prioritas
perpustakaan yang bersangkutan.
Kegiatan di perpustakaan yang dikelola dengan sistem
otomasi antara lain:
1. Sirkulasi
Sistem sirkulasi yang terotomasi mencakup semua
administrasi peminjaman dan pengembalian buku , reservasi (pesanan buku yang
akan dipinjam), perhitungan denda dan peringatan kepada peminjam tentang
keterlambatan pinjaman., statistik dsb, Satu terminal komputer dapat
menggantrikan setumpuk kartu peminjaman dan dapat mempercepat proses layanan.
Tujuan utama dari sistem sirkulasi berbasis komputer
adalah pencatatan secara sistematis item-item yang dipinjam serta data rinci peminjamannya.
Lebih spesifik, otomasi sirkulasi seharusnya menyediakan data sbb:
a. daftar
koleksi yang tersedia.
b. Buku yang
dipinjam
c. Buku yang
dikembalikan dan atau diperpanjang
d. Tanggal
jatuh tempo pinjaman
e. Apakah peminjam
dimungkinkan untuk meminjam lagi
f. Jika peminjam
mencoba meminjam lebih dari yang seharusnya
g. Mendeteksi
persoalan peminjam pada saat transaksi
h. Pemesanan
koleksi
i.
Denda
j.
Data koleksi
yang dipinjam
k. Statistik
pinjaman
Salah satu contoh program aplikasi yang memanfaatkan
Winisis dengan bantuan Visual Basic adalah SIPISIS versi Windows, yang
dikembangkan oleh Tim Otomasi Perpustakaan Universitas Hasanuddin sejak tahun
1997. Saat ini program SIPISIS Versi
Windows baru diinstal pada empat lokasi.
Sedangkan SIPISIS versi DOS yang dibuat sejak tahun 1997 sudah diinstal
tidak kurang dari 120 lokasi di seluruh Indonesia. Berikut contoh tampilan SIPISIS
versi Windows.
Contoh tampilan awal program SIPISIS
versi Windows
Sistem Pendataan Pengunjung

Sistem Scurity buku

2. Pengadaan bahan pustaka (acquisitions)
Pengadaan bahan pustaka terutama jurnal. CD-ROM yang didatangkan dari
luar negeri. biasanya bekerja sama dengan perpustakaan lain, baik secara
membeli, tukar menukar, ataupun hadiah.
Adapun otomasi di bidang pengadaan dimaksudkan untuk menjalankan
fungsi-fungsi sbb:
a. data koleksi yang akan dibeli
b. data koleksi yang belum dibeli
c. daftar pesanan ke rekanan
d. daftar koleksi yang sedang dalam pesanan
e. data pesnana yang belum diterima
f. pembukuan
g. data koleksi yang baru tiba dan statistik
Apabila perpustakaan menyediakan fasilitas online terhadap pengadaan maka
fungsi-fungsi tersebut semakin luas misalnya dapat dilakukan penelusuran ke
toko buku/penerbit untuk mengetahui apakah buku yang dipesan masih terbit atau
tidak, data harga buku, syarat-syarat pemesanan dari penerbit/toko buku dsb.
Katalogisasi
Otomasi di bidang katalogisasi
berupa manajemen basis data bibliografi, yang memudahkan dalam proses temu
balik informasi dan perolehan format katalog secara cepat dan akurat.
Ada beberapa alasan mengapa perlu otomasi katalogisasi antara lain:
Ø perlu penyediaan sarana akses ke koleksi
Ø daya telusur yang lebih baik
Ø pembuatan katalog induk
Ø menghilangkan atau mengurangi ketidakkonsistenan data
bibliografi
Ø mengurangi biaya perawatan kartu katalog
Ø karena tuntutan perubahan
Ø
Sistem
katalogisasi yang berbasis komputer idealnya mencakup karakteristik sbb:
Ø terlaksananya akses online ke database bibliografi yang
diperlukan
Ø Dengan persentase cantuman yang tinggi berarti mengurangi
kegiatan katalogisasi original
Ø konsistensi data bibliografi
Ø pengedalian kepengarangan
Ø data dalam katalog dapat diakses melalui berbagai cara
dan bentuk
Pengolahan jurnal
Pengolahan jurnal menimbulkan
sejumlah persoalan apabila ditangani secara manual. Sifat jurnal yang berbeda
dari buku dimana jurnal secara karaklteristik memiliki keunikan seperti nomor
volume, nomor terbitan, frekuensi terbitan, sifat perolehan, masa terbitan,
judul yang kerap kali berubah, penerbit berganti, dan sebagainya. Oleh karena
itu, pengolahan jurnal berbasis komputer dimaksudkan untuk mendapatkan data
jurnal yang akurat dan konsisten meliputi data sbb:
a. judul
b. subjek
c. nama agen
d. data jurnal yang telah diterima
e. mengirim data jurnal yang belum diterima ke agen/penerbit
f. judul-judul dapat disortir menurut
abjad dengan cepat.
Ø MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DIJITAL
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun
perpustakaan dijital, yaitu antara lain;
a. Sumberdaya manusia (pustakawan)
b. Sumberdaya teknologi
c. Sumberdaya finansial
d. Sumberdaya organisasi
a. Sumberdaya manusia
Sumberdaya manusia perpustakaan ,
merupakan elemen penting dalam membangun perpus-takaan dijital. Pustakawan
selayaknya mempunyai semagat yang kuat untuk
membangunnya. Pustakawan harus memiliki kompetensi manajerial lebih dari
yang dimiliki sekarang.
Kompetensi manajerial itu adalah ;Dream,
Goal, Strategy, Action , Result dan Evaluation.
Dream :
merupakan cita-cita, impian, visi yang kuat untuk dicapai.
Goal : sasaran
jangka pendek untuk mencapai impian,
Strategy :
merupakan cara untuk mencapai sasaran
Action :
pelaksanaan dari strategi di lapangan
Result : hasil yang dicapai. Apakah sudah mencapai sasaran yang
diharapkan.
Evaluation : adalah upaya untuk menilai apakah sasaran benar-benar
tercapai. Jika tidak perlu di evaluasi dan strategi yang perlu diubah, bukan goal.
Disamping ketrampilan manajerial,
untuk membangun perpustakaan dijital dibutuhkan ketram-pilan teknis. Seperti
yang dikatakan Chisenga (2003), ketrampilan teknis dibutuhkan tergantung sifat
dan canggihnya perpustakaan dijital yang dibangun, seperti : hardware
specialist, networks administrators, database administrators, programmers,
content developers, information managers dll. Bahkan ada opini yang
mengatakan kompetensi
tambahan yang harus dimilki pustakawan adalah :
a. Kemampuan dalam penggunaan komputer ( computer
literacy)
b. Kemampuan dalam menguasai basis data ( databases
management)
c. Kemampuan dalam penguasaan
peralatan teknologi informasi (tools and technology skills)
d. Kemampuan dalam penguasaan teknologi jaringan (computer
networks)
e. Kemampuan dalam penguasaan Internet dan/atau Intranet.
Dengan menguasai kompetensi diatas
baik kompetensi manajerial dan kompetensi teknologi informasi, Pustakawan dapat
mengelola perpustakaan dijital dengan baik. Jasa perpustakaan menjadi lebih
baik dan citra perpustakaanpun menjadi lebih menarik.
b. Sumberdaya teknologi
Teknologi adalah alat. Teknologi
semakin canggih dan sangat mendukung untuk membangun perpustakaan dijital.
Perkembangan teknologi informasi terus bergerak maju. Sumberdaya ini dibedakan
dua yaitu : perangkat keras dan perangkat lunak. Yang termasuk perangkat keras
adalah : Komputer, Server, scanner, photo dijital, modem (untuk
sambungan ke Internet), sambungan tilpun, jaringan dll. Sedangkan untuk
perangkat lunak , misalnya : Acrobat Reader, GDL dll.
c. Sumberdaya finansial
Abjad a dan b di atas akan dapat
diwujudkan jika sumberdaya finasial mencukupi. Untuk itu rekomendasi Dikti
dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman 2004 yang menyatakan bahwa
jumlah dana yang disarankan adalah 5% dari seluruh anggaran perguruan tinggi.
Untuk perguruan tinggi negeri, gaji pengawai tidak termasuk ke dalam persentasi
tersebut.Jumlah tersebut adalah wajar jika perpustakaan dianggap sebagai
jantung perguruan tinggi. Dalam hal perpustakaan dijital sudah seharusnya
menjadi visi institusi, sehingga keberadaan dana tersebut dapat diharapkan. Untuk
itu pustakawan harus selalu mengadakan pendekatan cantik kepada pengambil
kebijakan. Disamping itu ia juga harus mencari dukungan dari pihak lain untuk
membantu mendapat dana yang diharapkan. Pola kompetisi saat ini dengan
memberikan block grand kepada perpustakaan perlu diperjuangkan. Karena
dengan penuh semangat, optimisme, kerja keras dan berdoa dana tersebut bias
diperoleh.
d. Sumberdaya organisasi
Struktur organisasi mikro
perpustakaan perlu disesuaikan. Hal ini penting agar kegiatan digitalisasi
dapat ditampung di suatu wadah dengan penanggung jawab tertentu. Bila perlu ada
Bagian Digitalisasi, disamping Bagian Jasa Teknis , Jasa Pengguna, dan Bagian
Administrasi. Sehingga bagian ini akan fokus untuk menangani dijitalisasi
koleksi sampai koleksi tersebut siap untuk di upload dan diakses oleh
pengguna.
Winisis Untuk Sistem Otomasi dan
Digitalisasi Dokumen
Banyak sistem otomasi perpustakaan yang dapat
digunakan. Ada sistem buatan dalam negeri, ada pula buatan luar
negeri. Buatan luar negeri, walau banyak pula yang dapat diperoleh secara
gratis, namun kebanyakan tidak sesuai dengan kebutuhan. Terutama karena menggunakan bahasa asing
(Inggris). Sedangkan sistem otomasi
buatan dalam negeri kebanyakan harganya masih tidak terjangkau oleh pada umumnya
perpustakaan kecil.
Dengan Winisis yang gratis ini kita dapat membuat sistem
otomasi sederhana namun berdaya guna.
Program ini meskipun sederhana namun cukup fleksibel dan dapat
dikembangkan oleh pengguna yang kreatif.
Sistem ini banyak digunakan di Indonesia sehingga mudah bagi penggunanya
untuk berkonsultasi dengan pengguna lain. Lain dari pada itu, sistem ini pada
umumnya diajarkan pada lembaga pendidikan perpustakaan di Indonesia. Itulah
sebabnya dengan menggunakan Winisis kita dapat membuat sistem otomasi
perpustakaan digital secara tepat guna dan murah meriah.

Contoh
tampilan Winisis untuk penelusuran informasi dan full Text
Winisis dapat pula digunakan untuk sistem otomasi
sirkulasi tanpa memerlukan kemampuan pemograman yang rumit. Tentu saja jika frekuensi transaksi sirkulasi
tidak terlalu besar dalam satu hari.
Bagi perpustakaan kecil dengan frekuensi peminjaman misalnya dibawah 50
transaksi dalam sehari, kiranya dapat menggunakan sistem Winisis tanpa
pemograman untuk sistem sirkulasinya. Namun untuk perpustakaan yang volume
sirkulasi bukunya cukup besar,
diperlukan pengembangan yang lebih canggih, misalnya tambahan pemograman
menggunakan Visual Basic atau Delphi.
Secara sederhana penayangan data
Winisis di internet dapat pula dilakukan dengan sebelumnya melakukan konversi
data Winisis ke bentuk XML (Extensible Markup Language) untuk kemudian data
bentuk XML dapat ditelusur menggunakan program browser biasa. Selain itu
basisdata yang dihasilkan dengan program Winisis dapat pula diakses melalui internet menggunakan program
tertentu, misalnya ISISONLINE. Dengan pilihan program ISISONLINE, database
Winisis dapat dimanfaatkan langsung tandapa konversi ke format database lain.
Tentu saja untuk penyimpanan data dan programnya perlu dipilih opsi server internet sesuai kebutuhan dan
kemampuan.
Selain itu database CDS/ISIS (Winisis) datap dikembangkan
ke layanan perpustakaan digital. Untuk itu data dan program perlu disimpan pada
server yang dapat diakses via internet. Tentu saja perlu dipilih opsi penitipan
data yang sesuai kebutuhan dan kemampuan perpustakaan. Salah satu program yang dapat dipilih adalah
GDL (Ganesha Digital Library). Dengan
GDL database perpustakaan dapat ditayangkan via internet, sekaligus dapat
menampilkan full-text dari dokumen jika tersedia. Kalau GDL yang
digunakan, maka database CDS/ISIS perlu dikonversi lebih dahulu ke format
database SQL.
Contoh
tampilan awal website Universitas Hasanuddin
Salah satu cara sederhana dan murah
meriah menitipkan basisdata hasil pengolahan Winisis pada internet adalah
dengan mengubah seluruh cantuman ke
bentuk XML (Extensible Markup Language).
Format XML
adalah pengembangan dari format HTML. Bentuk XML inilah yang dapat disimpan di
internet, tentunya setelah dilengkapi dengan halaman homepage berbasis
HTML. Ada beberapa jasa penitipan gratis
yang dapat digunakan, misalnya Geocities atau Tripod.
Dokumen versi lengkapnya (fulltext) dapat dibuat
menggunakan format PDF (Portable Dopcument Format). Untuk mendapatkan
dokumen lengkap dengan format PDF ini, dapat dikonversi dari dokumen format DOC
(MS.WORD) yang sudah dalam bentuk digital atau melakukan konversi teks tercetak
ke digital (document scanning).
Untuk dokumen yang sudah dalam bentuk digital, misalnya makalah, dapat
segera dikonversikan ke bentuk PDF melalui fasilitas yang ada pada MS.WORD.
Dokumen yang masih dalam bentuk tercetak perlu dilakukan
proses scanning menggunakan peralatan scanner misalnya Flatbed
Document Scanner atau ADF (Automatic
Document Feeder) Document Scanner.
Tipe flatbed adalah document scanner yang hanya mampu
melakukan proses scanning lembar per lembar. Sedangkan tipe ADF dapat melakukan proses scanning
lebih cepat karena dapat menscan dokumen dalam jumlah banyak sekali gus.
MENCETAK BARCODE DENGAN PROGRAM BARCODE 97
Program Barcode 97 adalah
program freeware yang dapat digunakan untuk membuat image barcode dari input
karakter berupa angka (0-9), abjad (A-Z) atau karakter-karakter lain seperti
spasi, +, -, $, titik, titik koma dsb, dengan panjang tertentu sesuai dengan
jenis barcode yang dipilih. Beberapa
jenis barcode yang umum digunakan adalah Code 39, Code 93, EAN 8, EAN 12, UPC
version A, 2 of 5 Interleaved atau 2 of 5 Matrix. Program Barcode 97 hanya berfungsi
mengkonversi karakter yang diinput ke bentuk image barcode yang disimpan
sementara di clipboard Windows.
Selanjutnya jika akan dicetak ke kertas image barcode yang berada di
clipboard itu perlu dipastekan ke suatu halaman yang telah dibuka menggunakan
program pengolah-kata tertentu, misalnya MS.Word. Pencetakan selanjutnya dilakukan melalui
program MS.Word yang sudah menampung image barcode yang akan dicetak. Demikian
seterusnya untuk image barcode lain. Baca juga tulisan lain penulis dengan
judul Manfaat Barcode untuk Otomasi Perpustakaan.
Berikut adalah file program Barcode 97:

Langkah-langkah untuk membuat barcode
menggunakan program Bacode 97:
1. Jalankan
program Barcode 97, dengan mengklik ikon Barcode 97 (gambar BARCODE)
pada desktop, atau masuk ke folder tempat menyimpan file program
Barcode 97 melalui Windows Explorer kemudian klik ikon Barcode 97 akan
muncul tampilan berikut:


2. Atur
parameternya sesuai dengan kebutuhan. Lihat contoh diatas.
3. Isikan nomor
kode barcode yang akan dicetak, misalnya 770000437. Setelah menekan ENTER, maka image barcode
seperti diatas langsung dipreview pada suatu jendela popup kecil.
4. Klik COPY,
untuk menyimpan image barcode tersebut pada cliclippboard.
5. Kemudian
buka suatu dokumen pada Program MSWord.
6. Buat
template berupa tabel untuk menyimpan image barcode yang akan dibuat misalnya
seperti berikut:
7. Klik pada
kotak pertama, lalu klik PASTE untuk memasukkan image barcode pada dokumen
MS.Word tersebut. Demikian seterusnya untuk angka-angka yang lain pada kotak
tabel lainnya dengan cara yang sama, sehingga muncul tampilan seperti berikut:
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Dstnya
|
|
8. Lengkapi
dengan mengisi image barcode pada semua kotak, sehingga sesuai dengan lebar
kertas yang akan digunakan untuk mencetak barcode tersebut.
9. Lakukan
dengan cara yang sama untuk mencetak barcode BUKU dan barcode untuk kartu
anggota.
10. Simpan template tersebut sehingga bisa digunakan lagi
untuk mencetak nomor barcode lainnya.
Pustakawan Kreatif Menuju Otomasi Perpustakaan dan
Perpustakaan Digital
Memasuki millenium ke tiga, yang ditandai dengan maraknya
pembicaraan mengeni digital library, peranan perpustakaan sangat drastis
berubah seiring dengan berubahnya paradigma layanan perpustakaan dan informasi.
Perubahan drastis itu sudah barang tentu menuntut pula perubahan dalam
kompetensi dan ketrampilan serta karakteristik pustakawan sebagai pengelola
perpustakaan atau pun sebagai manajer informasi. Kompetensi yang dituntut setidaknya meliputi
kompetensi kultural dan kompetensi manajemen.
Beberapa kompetensi kultural yang dituntut dari seorang
pustakawan di era globalisasi adalah:
·
Kreatif,
proaktif dan percaya diri tinggi
·
Tidak pernah
bosan belajar
·
Ada kemauan
untuk selalu berubah dan memperbaiki diri
·
Berkepribadian
dan berpenampilan menarik
·
Mudah bergaul
dan bekerja sama dengan siapa saja
·
Punya komitmen
terhadap layanan yang bermutu dan tidak pernah puas dengan layanan yang
diberikan
·
Berjiwa
kewirausahaan (enterpreneurship)
·
Tegas dalam
aturan namun fleksibel pelaksanaan
·
Jujur dan
bermoral
Sedangkan beberapa kompetensi manajemen dan ketrampilan
yang dituntut dimiliki oleh seorang pustakawan di era globalisasi adalah:
·
Menguasai
ketrampilan teknis yang diperlukan sebagai seorang pustakawan dan manajer
informasi
·
Tidak gagap
teknologi, bahkan dituntut menguasai penggunaan TI
·
Menguasai
setidaknya satu bahasa asing
·
Trampil
berkomunikasi baik lisan maupun tulisan serta rajin membaca
·
Punya kemampuan
untuk melakukan penelitian secara mandiri atau kelompok
·
Punya kemampuan
untuk mengajar dan membimbing pengguna
·
Berpikir secara
global dan komprehensif namun bertindak sesuai kondisi dan kebutuhan, seperti
kata orang bijak
Ø Perpustakaan Digital
1.
Hakikat Perpustakaan Digital
Perpustakaan
Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi
yang mendukung akses obyek informasi tesebut melalui perangkat digital
(Sismanto, 2008). Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi
di dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam
format digital dengan cepat, tepat, dan akurat. Perpustakaan digital itu tidak
berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan
informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan
digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja,
ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa
digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksi menekankan pada isi informasi,
jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran. Perpustakaan ini
melayani mesin, manajer informasi, dan pemakai informasi. Semuanya ini demi
mendukung manajemen koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran
informasi.
Lesk
(dalam Pendit, 2007) memandang perpustakaan digital secara sangat umum sebagai
semanat-mata kumpulan informasi digital yang tertata. Arms (dalam Pendit, 2000)
memperluas sedikitnya dengan menambahkan bahwa koleksi tersebut disediakan
sebagai jasa dengan memanfaatkan jaringan informasi.
Sismanto
(2008) juga mengungkapkan bahwa gagasan perpustakaan digital ini diikuti Kantor
Kementerian Riset dan Teknologi dengan program Perpustakaan Digital yang
diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi data ilmiah dan teknologi dalam
bentuk digital secara terpadu dan lebih dinamis. Upaya ini dilaksanakan untuk
mendokumentasikan berbagai produk intelektual seperti tesis, disertasi, laporan
penelitian, dan juga publikasi kebijakan. Kelompok sasaran program ini adalah
unit dokumentasi dan informasi skala kecil yang ada di kalangan institusi
pemerintah, dan juga difokuskan pada lembaga pemerintah dan swasta yang
mempunyai informasi spesifik seperti kebun raya, kebun binatang, dan museum.
Perbedaan
”perpustakaan biasa” dengan ”perpustakaan digital” terlihat pada keberadaan
koleksi. Koleksi digital tidak harus berada di sebuah tempat fisik, sedangkan
koleksi biasa terletak pada sebuah tempat yang menetap, yaitu perpustakaan.
Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik
dengan internet atau kompoter, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah
buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan
digital bisa dinikmati pengguna dimana saja dan kapan saja, sedangkan pada
perpustakaan biasa pengguna menikmati di perpustakaan dengan jam-jam yang telah
diatur oleh kebijakan organisasi perpusakaan.
2.
Dasar Pemikiran Perpustakaan Digital
Ada
beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlunya dilakukannya digitasi
perpustakaan adalah sebagai berikut:
3.
Keunggulan dan Kelemahan Perpustakaan Digital
Beberapa
keunggulan perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, long
distance service, artinya dengan perpustakaan digital, pengguna bias
menikmati layanan sepuasnya, kapanpun dan dimanapun. Kedua, akses yang mudah.
Akses pepustakaan digital lebih mudah dibanding dengan perpustakaan
konvensional, karena pengguna tidak perlu dipusingkan dengan mencari di katalog
dengan waktu yang lama. Ketiga, murah (cost efective). Perpustakan
digital tidak memerlukan banyak biaya.
Mendigitalkan
koleksi perpustakaan lebih murah dibandingkan dengan membeli buku. Keempat, mencegah
duplikasi dan plagiat. Perpustakaan digital lebih “aman”, sehingga tidak
akan mudah untuh diplagiat. Bila penyimpanan koleksi perpustakaan menggunakan
format PDF, koleksi perpustakaan hanya bisa dibaca oleh pengguna, tanpa bisa
mengeditnya.
Kelima, publikasi karya secara global. Dengan adanya perpustakaan
digital, karya-karya dapat dipublikasikan secara global ke seluruh dunia dengan
bantuan internet. Selain keunggulan, perpustakaan digital juga memiliki
kelemahan. Pertama, tidak semua pengarang mengizinkan karyanya didigitalkan.
Pastinya, pengarang akan berpikirpikir
tentang
royalti yang akan diterima bila karyanya didigitalkan. Kedua, masih banyak
masyarakat Indonesia yang buta akan teknologi. Apalagi, bila perpustakaan
digital ini dikembangkan dalam perpustakaan di pedesaan. Ketiga, masih
sedikit pustakawan yang belum mengerti tentang tata cara mendigitalkan koleksi
perpustakaan. Itu artinya butuh sosialisasi dan penyuluhan tentang
perpustakaan digital.
4.
Proses Perpustakaan Digital
Suryandari
(2007) mengungkapkan proses digitalisasi yang dibedakan menjadi tiga kegiatan
utama, yaitu: a) Scanning, yaitu proses memindai (men-scan)
dokumen dalam bentuk cetak dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital.
Berkas yang dihasilkan dalam contoh ini adalah berkas PDF. b) Editing,
adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan cara memberikan password,
watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink, dan sebagainya.
Kebijakan mengenai hal-hal apa saja yang perlu diedit dan dilingdungi di dalam
berkas tersebut disesuaikan dengan kebijakan yang telah ditetapkan
perpustakaan. Proses OCR (Optical Character Recognition) dikategorikan
pula ke dalam pross editing. OCR adalah sebuah proses yang mengubah gambar
menjadi teks. Sebagai contoh, jika kita memindai sebuah halaman abstrak tesis,
maka akan dihasilkan sebuah berkas PDF dalam bentuk gambar. Artinya, berkas
tersebut tidak dapat dioleh dengan program pengolahan kata. c) Uploading,
adalah proses pengisian (input) metadata dan meng-upload berkas
dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang di-upload adalah berkas
PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga
lampiran, yang telah melalui proses editing.
Di
bagian akhir, ada dua buah server. Server pertama yaitu sebuah server yang
berhubungan dengan intranet, berisi seluruh metadata dan full text karya akhir
yang dapat diakses oleh seluruh pengguna di dalam Local Area Network (LAN)
perpustakaan yang bersangkutan. Sedangkan server kedua adalah sebuah server
yang terhubung ke internet, berisi metadata dan abstrak karya tersebut.
Pemisahan kedua server ini bertujuan untuk keamanan data. Dengan demikian, full
tekt sebuah karya hanya dapat diakses dari LAN, sedangkan melalui internet,
sebuah karya hanya dapat diakses abstraknya saja.
5.
Infrastruktur Perpustakaan Digital
Berikut
ini akan dijelaskan beberapa infrastruktur perpustakaan digital. Kebutuhan
dalam perpustakaan digital adalah perangkat keras, perangkat lunak, dan
jaringan komputer sebagai elemen-elemen penting infrastruktur sebuah
perpustakaan digital. Perangkat utama yang diperlukan dalam perpustakaan
digital adalah computer personal (PC), internet (inter-networking), dan world
wide web (WWW). Ketiga hal tersebut memungkinkan adanya perpustakaan
digital.
Perpustakaan
digital juga memerlukan sistem informasi. Sucahyo dan Ruldeviyani (2007)
mengungkapkan bahwa ada tiga elemen penting yang diperlukan dalam pengembangan
sistem informasi, yaitu pernagkat keras (hardware), perangkat lunak (software),
dan manusia (brainware).
Perangkat
keras yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Web server, yaitu server
yang akan melayani permintaan-permintaan layanan web page dari para
pengguna internet; (2) Database server, yaitu jantung sebuah
perpustakaan digital karena di sinilah keseluruhan koleksi disimpan; (3) FTP
server, yaitu untuk melakukan kirim/terima berkas melalui jaringan
komputer; (4) Mail server, yaitu server yang melayani segala sesuatu
yang berhubungan dengan surat elektronik (e-mail); (5) Printer server,
yaitu untuk menerima permintaan-permintaan pencetakan, mengatur antriannya, dan
memprosesnya; (6) Proxy server, yaitu untuk pengaturan keamanan
penggunaan internet dari pemakaipemakai yang tidak berhak dan juga dapat
digunakan untuk membatasi ke situs-situs yang tidak diperkenankan.
Perangkat
lunak yang paling banyak digunakan adalah Apache yang bersifat open source
(bebas terbuka-gratis). Untuk yang mengunakan Microsoft, terdapat perangkat
lunak untuk web server yaitu IIS (Internet Information Sevices).
Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam sistem informasi ini adalah (1) Database
Administrator, yaitu penanggungjawab kelancaran basis data, (2) Network
Administrator, yaitu penanggungjawab kelancaran operasional jaringan
komputer, (3) System Administrator, yaitu penanggungjawab siapa saja
yang berhak mengakses sistem, (4) Web Master, yaitu penjaga agar website
beserta seluruh halaman yang ada di dalamnya tetap beroperasi sehingga bisa
diakses oleh pengguna, dan (5) Web Designer, yaitu penanggungjawab
rancangan tampilan website sekaligus mengatus isi website.
a.
Kesimpulan
Automasi
Perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan
bantuan teknologi informasi (TI). Ada beberapa perbedaan dalam automasi
perpustakaan dan digitalisasi. Perbedaan keduanya adalah terletak pada sistem,
aksesibilitas, dan manajemen pengelolaan sistem. Sistem Automasi Perpustakaan
adalah penerapan teknologi informasi pada pekerjaan administratif di
perpustakaan yang menyangkut antara lain: pengadaan, inventarisasi,
katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan
sebagainya. Sedangkan sistem perpustakaan digital adalah penerapan teknologi
informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan
informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Dalam Sistem perpustakaan
digital dirancang agar koleksi perpustakaan mudah diakses dan jangkauan
aksesnya luas, penelusur darimanapun dapat mendapatkan informasi secara
langsung tanpa harus bertatap muka dengan pengelola. Sedangkan dalam automasi
perpustakaan aksesnya masih sulit sebab hanya anggota saja yang mampu mengakses
dan harus datang ke lokasi perpustakaan. Implementasi sistem perpustakaan
digital merupakan hal yang kompleks dan rumit, perlu perencanaan yang matang.
Mulai dari menyiapkan white papers, spesifikasi fungsional sistem, model
bisnis, manajemen tekhnologi, isu legal, manajemen SDM, prosedur dan lain-lain.
Ada
faktor penggerak dan alasan membuat automasi perpustakaan menurut Purwono,
2008. Faktor Penggerak automasi perpustakaan antara lain: Kemudahan mendapatkan
produk TI, Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk TI, Kemampuan dari
teknologi informasi, Tuntutan layanan masyarakat serba klik.
Sedangkan
alasan lain membuat automasi perpustakaan adalah: mengefisienkan dan
mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan, memberikan layanan yang lebih baik
kepada pengguna perpustakaan, meningkatkan citra perpustakaan, pengembangan
infrastruktur nasional, regional dan global, pengembangan infrastruktur
nasional, regional dan global. Cakupan dari Automasi Perpustakaan adalah:
Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, reserve, inter-library
loan, Pengelolaan penerbitan berkala, Penyediaan katalog (OPAC), Pengelolaan
anggota, dan Statistik. Beberapa hal yang harus diketahui dan dikerjakan oleh
pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya adalah:
Ø Pengantar
Internet
Istilah INTERNET berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti “antara”.
Secara kata per kata INTERNET berarti jaringan antara atau penghubung. Memang
itulah fungsinya, INTERNET menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling
bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa, sehingga mereka dapat
berkomunikasi. Sistem apa yang digunakan pada masing-masing jaringan tidak
menjadi masalah, apakah sistem DOS atau UNIX. Sementara jaringan lokal biasanya
terdiri atas komputer sejenis (misalnya DOS atau UNIX), INTERNET mengatasi
perbedaan berbagai sistem operasi dengan menggunakan “bahasa” yang sama oleh
semua jaringan dalam pengiriman data. Pada dasarnya inilah yang menyebabkan
besarnya dimensi INTERNET.
Dengan demikian, definisi INTERNET
ialah “jaringannya jaringan”, dengan menciptakan kemungkinan komunikasi antar
jaringan di seluruh dunia tanpa bergantung kepada jenis komputernya.
Kesimpulan:
· Definisi
INTERNET : Internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan
jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana
hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit)
yang menggunakan protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP.
· Fungsi :
Internet merupakan media komunikasi dan informasi modern.
Sejarah
Terbentuknya Internet
Banyak hal di INTERNET hanya dapat
dimengerti dengan mengetahui latar-belakang perkembangannya.
ARPANet
Pada tahun 1969 ARPA (Advanced
Research Project Agency), sebuah bagian dalam kementerian Pertahana Amerika
Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi menciptakan jalur komunikasi
yang tak dapat dihancurkan dan disisi lain memudahkan kerjasama antar badan
riset diseluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah
ARPANet. Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data,
bertambahnya komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru
komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan.
Internetting
Project
Untuk itu dibuat Internetting
Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam
ARPANet, agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai
sistem komputer yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan lalu
lintas jaringa tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.
Protokol
Internet : TCP/IP
Seperti telah disebutkan di atas,
INTERNET terbentuk dari jaringan-komputer yang tersebar di seluruh dunia.
Masing-masing jaringan-komputer terdiri dari tipe-tipe komputer yang berbeda
dengan jaringan yang lainnya. Maka diperlukan sebuah protokol yang mampu
mengintegrasikan seluruh jaringan komputer tersebut.
Solusinya adalah sebuah protokol
pengiriman data yang tak bergantung pada jenis komputer dan digunakan oleh
semua komputer untuk saling bertukar data. Agar data tidak hanya dapat dikirim
dan diterima, melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh setiap komputer,
diperlukan program standar yang mengolah data tersebut pada sistem yang
berkaitan.
Protokol pengiriman merupakan sebuah
konvensi (kesepakatan) yang menetapkan dengan cara apa data dikirimkan dan
bagaimana kesalahan yang terjadi dikenali serta dipecahkan. Secara sederhana
prose pengiriman data terdiri atas dua langkah.
Pertama, data yang akan dikrimkan
(misalnya sebuah file teks) dibagi ke dalam paket data berukuran data berukuran
sama (paket), kemudian dikirimkan
satu per satu. Di Internet, protokol ini disebut IP (Internet Protocol).
Kedua, harus dijamin setiap paket
data sampai ke alamat yang benar dan semuanya benar diterima. Untuk itu
diperlukan protokol lainnya, yaitu Transmission
Control Protocol (TCP) mengaitkan sebuah blok data pada paket data IP, yang
antara lain mengandung informasi mengenai alamat, jumlah total paket data dan
urutan setiap paket yang membentuk paket tersebut. Hanya secara bersamaan kedua
protokol membentuk kesatuan yang berfungsi, karena itu biasanya disebut TCP/IP.
Dengan adanya TCP/IP ini, INTERNET memiliki 3
keuntungan :
·
Memberi
kesempatan INTERNET menggunakan jalur komunikasi yang sama untuk pemakai yang
berbeda pada saat yang sama. Karena paket-paket data tidak perlu dikirimkan
bersama-sama, jalur komunikasi dapat membawa segala tipe paket data sementara
mereka dikirimkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Sebagai contoh,
bayangkan sebuah jalan raya di mana mobil bergerak sepanjang jalan yang sama walaupun
mereka menuju ke tempat-tempat yang berbeda-beda.
·
Memberi
INTERNET fleksibilitas. Sementara paket-paket data bergerak, mereka bergerak
dari satu host ke host lain sampai mencapai tujuan akhir. Jika sebuah jalur
komunikasi tidak berfungsi, sistem yang mengontrol aliran data dapat
menggunakan jalur alternatif. Maka, paket-paket data dapat bergerak melalui
jalur-jalur yang berbeda-beda.
·
Meningkatkan
kecepatan transmisi data. Sebagai contoh, jika terjadi kesalahan, TCP meminta
host asal mengirm kembali hanya paket-paket data yang mengandung kesalahan,
bukan semua paket data. Ini berarti meningkatkan kecepatan transmisi data.
Cara
mengakses Internet
1. Sambungan langsung ke Network
Anda dapat menggunakan sebuah komputer yang secara
langsung mempunyai hubungan ke INTERNET. Sebagai contoh, Anda mungkin
menggunakan sebuah PC yang merupakan bagian dari sebuah jaringan komputer yang
mempunyai hubungan ke INTERNET. Dalam kasus ini, sistem Anda menjadi host
INTERNET penuh, yaitu mempunyai alamat elektronik tersendiri.
2. Sambungan
dengan menggunakan SLIP/PPP
Untuk menggunakan hubungan dial-up telepon, Anda
memerlukan sebuah alat untuk mengkonversi sinyal komputer (digital) menjadi
sinyal telepon (analog), dan sebaliknya. Alat untuk mengkonversi sinyal digital
ke sinyal analog disebut modulator.
Sedang, alat untuk mengkonversikan sinyal analog ke sinyal digital disebut demodulator. Untuk mengakses ke INTERNET
melalui hubungan telepon, Anda memerlukan sebuah modem (modulator-demodulator). Selain itu diperlukan juga TCP/IP dan
software SLIP atau PPP seperti Linux, Warp, dll.
3. Sambungan
langsung ke On-line Service seperti BBS, Compuserve.
Untuk menjadi sebuah host INTERNET tanpa harus
memiliki hubungan full-time ke INTERNET (yang umumnya sangat mahal), ada sebuah
cara mensetup sebuah host INTERNET melalui hubungan telepon. Untuk melakukan
hal tersebut, Anda perlu mengadakan perjanjian dengan sebuah host INTERNET yang
lain yang bertindak sebagai titik hubungan. Selanjutnya, diperlukan sejumlah
program yang disebut sebagai PPP (Point to Point Protocol) dan SLIP (Serial
Line Internet Protocol) dalam workstation. Setelah workstation menghubungi host
INTERNET melalui jalur telepon, PPP menyediakan kemampuan TCP/IP untuk
workstation tersebut.
Alamat IP
Sebuah alamat IP terdiri atas sebuah angka biner
32-bit, yang menggambarkan lokasi jaringan hingga komputer dalam jaringan
tersebut yang harus dicapai. Dari sanalah Router memilih jalur yang paling
menguntungkan.
Artinya, Internet menentukan sendiri jalan “melalui”
banyak jaringan yang tergabung antara dua tempat, sehingga hampir tak mungkin
merusak media komunikasi ini. Bila misalnya sebuah kabel penghubung rusak oleh
pekerjaan galian tanah, INTERNET mengalihkan pengiriman paket ke jalur lain.
Hal ini disebut Dynamic Rerouting.
Alamat DNS
Karena angka biner tidak mudah
diingat, maka dikembangkan sistem Domain
Name System (DNS). Disini alamat disusun dalam sebuah hierarki berbagai
wilayah (domain = wilayah), yang mewakili sebuah kelompok host tertentu. Host adalah komputer dalam jaringan lokal (LAN) atau
Wide Area Network (WAN), yang diakses oleh komputer lain dalam jaringan
tersebut.
Agar penyampaian otomatis oleh
Router tetap berfungsi, angka biner tetap digunakan. Bila Anda memberikan
sebuah alamat DNS, pertama-tama data dikirimkan ke sebuah Server dan diubah menjadi alamat Ip yang dapat dibaca oleh
Komputer.
Contoh berikut ini akan menjelaskan
sistem alamat DNS. Seperti pada alamat IP, alamat tersebut juga mengandung
informasi yang dibutuhkan untuk identifikasi komputer yang diingikan. Setiap
bagian alamat DNS harus dipisahkan dengan sebuah titik.
Gopher adalah nama sebuah komputer
dalam jaringan “bppt” dalam domain “id”,
yang berarti Indonesia. Seperti Anda lihat pada contoh di atas, mula-mula
ditulis nama host yang diinginkan, disusul oleh bagian-bagian yang semakin
besar hingga tingkat tertinggi, yaitu domain.
Untuk mencapai komputer tersebut,
alamat dibaca dari kanan ke kiri. Mula-mula jaringan tempat Anda mengakses
INTERNET menciptakan hubungan dengan Router tertinggi yang mengelola semua
alamat dalam domain “id”.
Domain diatas mewakili sebuah
wilayah geografis, singkatan “id” berarti Indonesia. Selain itu terdapat pula
berbagai domain tematik, yang dikenali pada singakatan paling kanan dalam
alamat DNS.
|
Singkatan
|
Jenis
Domain
|
|
Com
|
perusahaan komersial
|
|
Edu
|
badan pendidikan (misalnya universitas atau
institut)
|
|
Gov
|
lembaga pemerintahan non-militer
|
|
Mil
|
militer
|
|
Net
|
jaringan
|
|
Org
|
organisasi lainnya
|
|
int
|
organisasi internasional
|
|
Ac
|
badan pendidikan
|
Domain
geografis :
|
Singkatan
|
Artinya
|
Singkatan
|
Artinya
|
Singkatan
|
Artinya
|
|
At
|
Austria
|
pl
|
Polandia
|
de
|
Jerman
|
|
Au
|
Australia
|
pt
|
Portugal
|
be
|
Belgia
|
|
Ch
|
Swiss
|
se
|
Swedia
|
bg
|
Bulgaria
|
|
Dk
|
Denmark
|
uk
|
Inggris
|
br
|
Brazil
|
|
Ee
|
Eslandia
|
us
|
Amerika
|
fi
|
Finlandia
|
|
Es
|
Spanyol
|
cl
|
Cile
|
fr
|
Prancis
|
|
in
|
India
|
ir
|
Irlandia
|
jp
|
Jepang
|
Dengan demikian alamat INTERNET standar adalah :
username@domain
KEPUSTAKAAN
MUSTAFA, B. Perubahan paradigma layanan perpustakaan
di era teknologi informasi. Jurnal Pustakawan Indonesia, 1998 Vol. 1 No. 1: hal.1
– 5.
MUSTAFA, B. Komersialisasi
layanan perpustakaan: tinjauan dan prospek. Makalah pendukung yang disampaikan
dalam beberapa seminar.
SUDARSONO, Blasius.
Nilai ekonomi informasi bagi perpustakaan. Makalah ringkas dalam suatu diskusi di
Jakarta, 16 September 1996.
SULISTYO-BASUKI. Peran perpustakaan dalam masa krisis
moneter. Makalah disajikan dalam Temu Ilmiah Berkala Program Studi S2 Ilmu
Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan. Depok, Jum’at, 12 Juni 1998.
SULISTYO-BASUKI. Perubahan paradigma dalam sistem
informasi. Makalah pembuka pada Seminar Sehari Layanan Pusdokinfo
Berorientasi Pemakai di Era Informasi, diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu
Perpustakaan, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 16 Maret 1996.
VANES, Susan I.
Do You Communicate?. Library Management. 14 (2) 1993: 19-23.
N a m a
: La Tommeng, S.Sos., M.I.Kom
Asal
: Sidrap
Alamat Rumah : Kompleks
UNHAS Blok J No. 7 Antang
Tlp. (0411) 495881
Alamat Kantor : UPT
Perpustakaan UNHAS
Kampus UNHAS Km 10 Tamalanrea
Telp (0411) 580086 Fax
0411-587027
Hp. 08124215457 / Flexi (0411)2475510
Pendidikan :
D3 Perpustakaan Sospol UNHAS (1986).
S1-Jurusan Ilmu
Perpustakaan
S2-Ilmu Komunikasi UNHAS
Kursur dan pelatihan:
n Pelatihan
sistem jaringan Local Area Network di UNHAS
n Pelatihan Bidang Perpustakaan dan Informasi selama 1991 di Bandung.
n Pelatihan
digitalisasi Perpustakan di Bogor
n Pelatihan
program DYNIX 1994 di Bali.
n Lanjutan pelatihan program DYNIX
1995 di Jakarta.
n Pelatihan
Manajemen Perpustakaan PTN/PTS Bogor, 1996
n Juara 2 Pustakawan Berprestasi tahun 2009
Pengalaman
Profesional
n Asisten
Konsultan Automasi Perpustakaan untuk Kawasan Timur Indonesia
n Asisten
Konsultan Pembentukan dan pengelolaan Perpustakaan Multimedia Pemerintah
Sulawesi Selatan
n Anggota Tim Revisi SIPISIS ver DOS
dan Versi Windows
n Penanggungjawab Automasi
Perpustakaan UNHAS dalam pengembangan SIPISIS (Sistem Informasi Perpustakaan
Berbasis CDS/ISIS)
n Ketua Divisi Informasi PTIK
Universitas Hasanuddin
n
Pengurus IPI (Ikatan Pustakawan
Indonesia) Sulawesi Selatan
n Pembuat Katalog Induk dalam CD-R
untuk Untuk beberapa perguruan tinggi di
Indonesia
n Merancang dan
membangun pangkalan data automasi di lebih dari dua ratus perpustakaan di
seluruh Indonesia.
n Mengikuti dan
berbicara sebagai penceramah dalam seminar lokal dan nasional dalam bidang
perpustakaan, informasi dan komputerDari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemustaka
adalah pengguna perpustakaan baik perseorangan atau kelompok yang memanfaatkan
layanan dan koleksi perpustakaan.
Sumber: http://www.pemustaka.com/pemustaka
Sumber: http://www.pemustaka.com/pemustaka

ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق