الخميس، 27 فبراير 2014

DIGITALISASI MASSAL SEBAGAI MEDIA BARU

http://komunikasi.us/index.php/mata-kuliah/dmnm/4292-reni
DIGITALISASI MASSAL SEBAGAI MEDIA BARU
Oleh: Reni Herawati

Budaya sudah mucul sejak peradaban manusia di muka bumi ini. Budaya lahir dari dalam diri manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan pikiran. Akal yang berperan untuk memproses pikiran manusia akan suatu hal menjadi sumber utama mengapa budaya tercipta dari manusia.
Analisa ini diperkuat oleh definisi budaya menurut ahli antropologi, Koentjaraningrat. (Dalam buku pengantar ilmu Antropologi (1989:186)), Kebudayaan adalah merupakan wujud ideal yang bersifat abstrak dan tak dapat diraba yang ada di dalam pikiran mausia yang dapat berupa gagasan, ide, norma, keyakinan dan lain sebagainya.
Budaya tersebut tercipta dari sebuah daya khayal manusia akan sesuatu hal yang bentuknya bisa bersifat nyata maupun abstrak. Budaya bersifat abstrak meliputi norma, moral dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia secara individu maupun golongan. Sementara sifat nyata budaya, berupa alat-alat yang dipakai dalam kehidupan manusia sehari-hari, seperti alat tekhnologi, alat pertanian, alat komunikasi, alat transportasi, hasil kesenian, alat rumah tangga, dan seluruh peralatan yang menjadi media pendukung khidupan manusia.

Wujud kebudayaan yang dihasilkan manusia ini yang disebut sebagai benda-benda hasil karya manusia.  Hasil tesebut menjadi bermanfaat bagi si pemilik gagasan atau ide, maupun bagi seluruh manusia di seluruh dunia. Berdasarkan analisa tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa budaya menjadi tonggak awal bagaimana teknologi tumbuh dan berkembang pesat di bumi ini.
Beberapa pakar yakin teknologi dibentuk oleh budaya. Hubungan antara teknologi dan budaya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
 
Definisi Teknologi
Definisi Budaya
Level pertama, definisi ‘common-sense’
Teknologi sebagai objek fisik, alat, artefak
Budaya sebagai ‘seni’ dan keunggulan estetika
Level kedua, ‘konstektual’ atau pengguna berbasis definisi
Teknologi sebagai konten atau ‘software’ yang didefinisikan oleh bagaimana itu digunakan
Budaya sebagai cara untuk hidup atau pengalaman hidup orang-orang
Level ketiga, definisi komunikatif atau struktural
Teknologi sebagai sistem dari pengetahuan atau social
Budaya sebagai sistem yang terstruktur
Menurut McLuhan, media hanya dapat memiliki konten ketika media tersebut digunakan dan dikonjungsikan dengan media lain, misalnya penggunaan lampu listrik untuk menguraikan tanda neon.
McLuhan mendifinisikan media dalam hubungannya dengan indera manusia. McLuhan membaginya dalam dua kategori, yaitu ‘hot’ dan ‘cool’ media. Hot media adalah media yang hanya mengandalkan satu indera, misalnya media foto dan radio. Cool media adalah media yang menggunakan lebih dari satu indera, misalnya televisi.
Kemunculan teknologi-teknologi media mengantarkan komunikasi pada dunia yang lebih modern. Hal tersebut secara kemudian membawa perubahan terhadap berbagai aspek dalam kehidupan sosial, termasuk sosial, ekonomi, dan politik. Kemunculan teknologi media merupakan penghubung utama dalam kemodernan.
Teknologi Media Baru
Era yang disebut digitalisasi merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang begitu cepat. Hal ini nantinya menimbulkan konvergensi antar media. Kovergensi media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan. Konvergensi adalah keadaan dimana semua elemen media baik yang menggunakan teknologi lama atau baru bersatu untuk menghasilkan produk baru yang terintegrasi.
Salah satu kasus yang dapat dijadikan contoh dari konvergensi media adalah Surat Kabar Kompas yang berawal dari surat kabar kemudian melebarkan sayap ke ranah digital (web dan social media) dan elektronik. Hal ini dilakukan sesuai dengan perubahan tren membaca Koran di Indonesia.
Perkembangan teknologi yang memicu lahirnya media baru tidak serta merta menghapuskan atau mengganti media lama. Karena ada beberapa karakteristik media lama yang tidak bisa digantikan oleh media baru. Contohnya adalah berita di twitter tidak bisa menggantikan berita yang terbit di surat kabar. Karena berita di twitter bersifat selintas walaupun bersifat realtime, tapi tidak bisa menggantikan sifat berita di surat kabar yang detail.
Menurut McQuail (2011) terdapat beberapa perbedaan yang muncul akibat perkembangan teknologi terletak pada :
  1. Digitalisasi dan konvergensi media
  2. Interktifitas dan konektivitas jaringan yang semakin meningkat, dimana publik bisa secara langsung memberikan feedback terhadap konten.
  3. Mobilitas dan delokasi untuk mengirim dan menerima
  4. Adaptasi terhadap peranan publikasi dan khalayak
  5. Munculnya beragam bentuk baru ‘pintu’ (gateway) media
  6. Pemisahan dan pengaburan dari ‘lembaga media’
Perkembangan teknologi tidak hanya memicu lahirnya media-media baru tapi juga melahirkan pola baru dalam lalu lintas informasi. Bordewijk dan Van Kaam (McQuail : 2011) mencoba membagi pola tersebut kedalam beberapa kategori :
  1. Allocution
Merupakan suatu pola komunikasi dimana informasi disebarkan dari satu pusat kepada beberapa titik yang tersebar secara bersamaan. Biasanya pola ini banyak digunakan komunikasi yang berbentuk perkuliahan, konser, atau khotbah. Sedangkan ditengah perkembangan teknologi baru kita dapat melihat pola ini ketika ada salah satu tweeps yang memberikan tweet. Secara bersamaan pada saat itu juga akan menyebarkan kepada semua followernya.
2.      Percakapan
Karakteristik dari pola komunikasi ini adalah memungkin semua orang untuk berinteraksi baik yang dimediasi ataupun secara langsung. Kunci utama dari percakapan ini adalah adanya kesetaraan diantara pihak yang terlibat dalam interaksi. Contohnya adalah percakapan melalui email (surat elektronik) yang dimediasi oleh pihak ketiga berupa email.
3.      Konsultasi
Konsultasi merupakan pola komunikasi dimana antara pihak yang terlibat ada yang berfungsi sebagai bank informasi yang bisa dijadikan tempat untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Surat kabar cetak merupakan salah satu media yang menggunakan pola komunikasi konsultasi, dimana didalamnya terdapat beraneka ragam informasi.
4.      Registrasi
Pola komunikasi registrasi adalah pola konsultasi yang berkebalikan, dimana pusat meminta dan menerima informasi dari partisipan di periferi.
Berdasarkan pola komunikasi diatas kita dapat memilah dan menyeleksi pola apakah yang cocok untuk digunakan dalam mencapai tujuan kita. Seperti di era digital khususnya ditengah memboomingnya media sosial, kita dapat menggunakan media sebagai perantara dalam menciptakan iklim partisipasi politik dan iklim demokrasi. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari penggunaan media baru terutama internet bagi terciptanya iklim partisipasi politik dan demokrasi, diantaranya :
·         Ruang untuk interaktifitas
Kemunculannya teknologi terutama internet membuka suatu dunia baru dimana semua orang dapat terkoneksi dengan siapapun, dimanapun, kapanpun dan dalam waktu yang relatif singkat. Internet memfasilitasi publik didalammnya untuk berinteraksi tanpa rasa takut untuk menyampaikan pendapat, karena terkadang publik yang ada didalam susah untuk diidentifikasi identitasnya. Dengan adanya kebebasan ini, akan menstimulus masyarakat untuk berani tampil mengemukakakn pendapatnya. Walaupun tetap harus dikontrol oleh suatu aturan agar tidak terjadi penyalahgunaan hak kebebasan dalam mengemukakan pendapat.
·         Komunikasi yang bersifat vertikal dan horizontal, sehingga tercipta kesetaraan.
Internet memfasilitasi setiap publik yang ada didalamnya untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi tanpa ada status vertikal dan horizontal. Dalam internet hanya dikenal istilah sumber dan yang menerima. Ketidakadan garis vertikal akan semakin membuat setiap publik dalam internet untuk semakin berani dan bebas dalam mengemukakan pendapatnya. Contohnya, pada zaman internet belum membooming tidak ada satupun yang berani mengkritik menteri secara langsung. Tapi sekarang apa yang terjadi, banyak masyarkat yang berani secara langsung mengkritik Menkominfo Tifatul Sembiring melalui akun twitternya.
·         Komunikasi yang bersifat langsung tanpa perantara (kecuali media itu sendiri).
Internet memiliki banyak produk yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi secara langsung antara pihak yang terlibat didalamnya. Misalnya saja ketika anda ingin menyampaikan keluh kesah mengenai kinerja pemerintah kepada tim kepresidenan RI. Sebelum adanya internet ini sangat susah untuk dilakukan, tetapi dengan adanya internet anda cukup mengirim sebuah email yang berisi keluh kesah terhadap kinerja pemerintah yang ada sekarang.
·         Biaya yang murah dalam mendapatkan informasi
Selain kemudahan yang ditawarkan, internet juga menawarkan biaya yang lebih murah. Karena cukup bermodalkan biaya internet, anda yang tinggal di Aceh tidak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menyampaikan keluh kesah kepada tim keprisidenan, dimana itu akan memakan biaya yang cukup besar.
·         Kontak secara langsung dan hilangnya batasan terhadap kontak
Kontak secara langsung dan hilangnya batasan terhadap kontak hanya berlaku pada beberapa produk dari internet. Karena terkadang tidak semua publik dalam kehidupan nyata langsung mengurusi identitasnya didunia maya. Contohnya, Presiden SBY tidak mungkin secara langsung mengurus personal twitter atau websitenya di internet. Semua indetitas di dunia maya dikelola oleh pihak yang secara professional di hire oleh Presiden SBY.
Internet sebagai salah satu efek dari kemajuan teknologi merupakan suatu media yang mempunyai efek positif dan negatif, dimana kita harus bijak menggunakannya agar dapat meminimalisir efek negatif yang ada. Selain itu, untuk meminimalisir efek negatifnya kita membutuhkan pihak ketiga yang netral (baik pemerintah maupun peraturan) untuk melakukan pengawasan. Sehingga kita bisa tetap bebas mengemukakan pendapat tanpa mengganggu hak orang lain, atau istilah kerennya mari kita wujudkan kebebasan pendapat yang bertanggung jawab.
Komunikasi informasi berkembang sangatlah cepat dan telah menyusul dengan pesat hingga pada kecanggihan yang diciptakan oleh pemilik gagasan. Masyarakat di seluruh dunia dapat menikmati kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi melalui media komunikasi yang telah diciptakan dan ditemukan oleh para ahlinya. Di jaman modern seperti sekarang ini, masyarakat telah mengenal beragam teknologi diluar media tradisional seperti mobile phone, internet, social network, blog, dan masih banyak lagi.

Teknologi sebagai media komunikasi memiliki dampak luas, yang membawa nilai positif maupun negative bagi si penggunanya. Dalam hal positifnya, teknologi komunikasi mempermudah jangkauan komunikasi manusia satu dengan yang lainnya tanpa ada penghalang yakni ruang, waktu dan jarak. Atau dengan kata lain media komunikasi saat ini sudah menjadi sebuah istilah 'Global Village' atau dusun semesta.

Adapun dampak negatif dari teknologi sebagai media komunikasi adalah fragmentasi sosial yang secara negative, yakni adanya hambatan sosialiasi dengan sesamanya. Misalnya masyarakat cenderung bersifat individualistik dan cuek kepada lingkungan sekitarnya karena terlalu berlebihan dalam menggunakan media komunikasi (Blackberry, internet, jejaring sosial, dan lain-lain).
Budaya akan teknologi dapat diartikan sebagai perilaku (behaviour) dan kebiasaan (habit) hidup masyarakat dalam pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan dan makna kehidupan sehari-hari. Terbentuknya komunitas baru pengguna teknologi, sebagai akar lahirnya kultur baru dalam masyarakat.
Ketergantungan satu sama lain dalam sebuah komunitas sosial masyarakat, mengharuskan kita menyesuaikan diri. Jika dalam satu komunitas tertentu telah menggunakan teknologi sebagai solusi kehidupan mereka, mau tidak mau individu yang berhubungan dengan komunitas tersebut akan mengikutinya. Sebagai contoh bahwa setiap orang sangat mudah memiliki sebuah alat komunikasi yang disebut handphone, dimana dulu sekitar tahun 1995, Handphone (HP) merupakan alat mewah yang sulit dimiliki oleh setiap orang, karena selain harga mahal dan juga karena penggunaannya yang dianggap terlalu canggih, belum layak untuk dimilki setiap orang. Tetapi sejalan dengan waktu dan tuntutan komunikasi antar personal yang didorong juga oleh gaya hidup, maka alat ini (HP) telah menjadi alat yang hampir setiap orang di kota besar (sudah mulai merambah di desa-desa) telah memilikinya.
Perilaku masyarakat menggunakan alat bantu telekomunikasi itu, menjadi ‘habit’ (kebiasaan) bahkan telah menuju tingkat kebutuhan primer, artinya ketergantungan terhadap alat komunikasi ini sangat tinggi. Handphone yang diartikan juga sebagai telepon genggam, sekarang ini sudah tidak dipandang sebagai alat yang istimewa karena alasan life style (gaya hidup). Tetapi alasan untuk memilikinya adalah untuk kepentingan bisnis, efesiensi dan efektifitas berkomunikasi.
            Kesimpulan penulis atas budaya dan teknologi media baru adalah budaya merubah pola kehidupan manusia menjadi digitalisasi massal dalam setiap segi kehidupan terutama dalam hal berkomunikasi. Digitalisasi ini membuat sebuah kehidupan lama menjadi baru atau modern. Namun demikian ada nilai-nilai yang terabaikan dari era digitalisasi ini. Kembali ke peran manusia untuk memikirkan solusi agar digitalisasi ini menjadi hal yang positif.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق