http://komunikasi.us/index.php/mata-kuliah/dmnm/4292-reni
DIGITALISASI MASSAL SEBAGAI MEDIA BARU
Oleh: Reni Herawati
Budaya
sudah mucul sejak peradaban manusia di muka bumi ini. Budaya lahir dari
dalam diri manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan
pikiran. Akal yang berperan untuk memproses pikiran manusia akan suatu
hal menjadi sumber utama mengapa budaya tercipta dari manusia.
Analisa
ini diperkuat oleh definisi budaya menurut ahli antropologi,
Koentjaraningrat. (Dalam buku pengantar ilmu Antropologi (1989:186)),
Kebudayaan adalah merupakan wujud ideal yang bersifat abstrak dan tak
dapat diraba yang ada di dalam pikiran mausia yang dapat berupa gagasan,
ide, norma, keyakinan dan lain sebagainya.
Budaya
tersebut tercipta dari sebuah daya khayal manusia akan sesuatu hal yang
bentuknya bisa bersifat nyata maupun abstrak. Budaya bersifat abstrak
meliputi norma, moral dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia
secara individu maupun golongan. Sementara sifat nyata budaya, berupa
alat-alat yang dipakai dalam kehidupan manusia sehari-hari, seperti alat
tekhnologi, alat pertanian, alat komunikasi, alat transportasi, hasil
kesenian, alat rumah tangga, dan seluruh peralatan yang menjadi media
pendukung khidupan manusia.
Wujud kebudayaan yang dihasilkan manusia ini yang disebut sebagai benda-benda hasil karya manusia. Hasil
tesebut menjadi bermanfaat bagi si pemilik gagasan atau ide, maupun
bagi seluruh manusia di seluruh dunia. Berdasarkan analisa tersebut
dapat ditarik kesimpulan, bahwa budaya menjadi tonggak awal bagaimana
teknologi tumbuh dan berkembang pesat di bumi ini.
Beberapa pakar yakin teknologi dibentuk oleh budaya. Hubungan antara teknologi dan budaya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
|
Definisi Teknologi
|
Definisi Budaya
|
|
|
Level pertama, definisi ‘common-sense’
|
Teknologi sebagai objek fisik, alat, artefak
|
Budaya sebagai ‘seni’ dan keunggulan estetika
|
|
Level kedua, ‘konstektual’ atau pengguna berbasis definisi
|
Teknologi sebagai konten atau ‘software’ yang didefinisikan oleh bagaimana itu digunakan
|
Budaya sebagai cara untuk hidup atau pengalaman hidup orang-orang
|
|
Level ketiga, definisi komunikatif atau struktural
|
Teknologi sebagai sistem dari pengetahuan atau social
|
Budaya sebagai sistem yang terstruktur
|
Menurut
McLuhan, media hanya dapat memiliki konten ketika media tersebut
digunakan dan dikonjungsikan dengan media lain, misalnya penggunaan
lampu listrik untuk menguraikan tanda neon.
McLuhan
mendifinisikan media dalam hubungannya dengan indera manusia. McLuhan
membaginya dalam dua kategori, yaitu ‘hot’ dan ‘cool’ media. Hot media
adalah media yang hanya mengandalkan satu indera, misalnya media foto
dan radio. Cool media adalah media yang menggunakan lebih dari satu
indera, misalnya televisi.
Kemunculan
teknologi-teknologi media mengantarkan komunikasi pada dunia yang lebih
modern. Hal tersebut secara kemudian membawa perubahan terhadap
berbagai aspek dalam kehidupan sosial, termasuk sosial, ekonomi, dan
politik. Kemunculan teknologi media merupakan penghubung utama dalam
kemodernan.
Teknologi Media Baru
Era
yang disebut digitalisasi merupakan hasil dari perkembangan teknologi
yang begitu cepat. Hal ini nantinya menimbulkan konvergensi antar media.
Kovergensi media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media
yang ada untuk digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan.
Konvergensi adalah keadaan dimana semua elemen media baik yang
menggunakan teknologi lama atau baru bersatu untuk menghasilkan produk
baru yang terintegrasi.
Salah
satu kasus yang dapat dijadikan contoh dari konvergensi media adalah
Surat Kabar Kompas yang berawal dari surat kabar kemudian melebarkan
sayap ke ranah digital (web dan social media) dan elektronik. Hal ini
dilakukan sesuai dengan perubahan tren membaca Koran di Indonesia.
Perkembangan
teknologi yang memicu lahirnya media baru tidak serta merta
menghapuskan atau mengganti media lama. Karena ada beberapa
karakteristik media lama yang tidak bisa digantikan oleh media baru.
Contohnya adalah berita di twitter tidak bisa menggantikan berita yang
terbit di surat kabar. Karena berita di twitter bersifat selintas
walaupun bersifat realtime, tapi tidak bisa menggantikan sifat berita di
surat kabar yang detail.
Menurut McQuail (2011) terdapat beberapa perbedaan yang muncul akibat perkembangan teknologi terletak pada :
- Digitalisasi dan konvergensi media
- Interktifitas dan konektivitas jaringan yang semakin meningkat, dimana publik bisa secara langsung memberikan feedback terhadap konten.
- Mobilitas dan delokasi untuk mengirim dan menerima
- Adaptasi terhadap peranan publikasi dan khalayak
- Munculnya beragam bentuk baru ‘pintu’ (gateway) media
- Pemisahan dan pengaburan dari ‘lembaga media’
Perkembangan
teknologi tidak hanya memicu lahirnya media-media baru tapi juga
melahirkan pola baru dalam lalu lintas informasi. Bordewijk dan Van Kaam
(McQuail : 2011) mencoba membagi pola tersebut kedalam beberapa
kategori :
- Allocution
Merupakan
suatu pola komunikasi dimana informasi disebarkan dari satu pusat
kepada beberapa titik yang tersebar secara bersamaan. Biasanya pola ini
banyak digunakan komunikasi yang berbentuk perkuliahan, konser, atau
khotbah. Sedangkan ditengah perkembangan teknologi baru kita dapat
melihat pola ini ketika ada salah satu tweeps yang memberikan tweet. Secara bersamaan pada saat itu juga akan menyebarkan kepada semua followernya.
2. Percakapan
Karakteristik
dari pola komunikasi ini adalah memungkin semua orang untuk
berinteraksi baik yang dimediasi ataupun secara langsung. Kunci utama
dari percakapan ini adalah adanya kesetaraan diantara pihak yang
terlibat dalam interaksi. Contohnya adalah percakapan melalui email (surat elektronik) yang dimediasi oleh pihak ketiga berupa email.
3. Konsultasi
Konsultasi
merupakan pola komunikasi dimana antara pihak yang terlibat ada yang
berfungsi sebagai bank informasi yang bisa dijadikan tempat untuk
mencari informasi yang dibutuhkan. Surat kabar cetak merupakan salah
satu media yang menggunakan pola komunikasi konsultasi, dimana
didalamnya terdapat beraneka ragam informasi.
4. Registrasi
Pola
komunikasi registrasi adalah pola konsultasi yang berkebalikan, dimana
pusat meminta dan menerima informasi dari partisipan di periferi.
Berdasarkan
pola komunikasi diatas kita dapat memilah dan menyeleksi pola apakah
yang cocok untuk digunakan dalam mencapai tujuan kita. Seperti di era
digital khususnya ditengah memboomingnya media sosial, kita dapat
menggunakan media sebagai perantara dalam menciptakan iklim partisipasi
politik dan iklim demokrasi. Ada beberapa keuntungan yang bisa
didapatkan dari penggunaan media baru terutama internet bagi terciptanya
iklim partisipasi politik dan demokrasi, diantaranya :
· Ruang untuk interaktifitas
Kemunculannya
teknologi terutama internet membuka suatu dunia baru dimana semua orang
dapat terkoneksi dengan siapapun, dimanapun, kapanpun dan dalam waktu
yang relatif singkat. Internet memfasilitasi publik didalammnya untuk
berinteraksi tanpa rasa takut untuk menyampaikan pendapat, karena
terkadang publik yang ada didalam susah untuk diidentifikasi
identitasnya. Dengan adanya kebebasan ini, akan menstimulus masyarakat
untuk berani tampil mengemukakakn pendapatnya. Walaupun tetap harus
dikontrol oleh suatu aturan agar tidak terjadi penyalahgunaan hak
kebebasan dalam mengemukakan pendapat.
· Komunikasi yang bersifat vertikal dan horizontal, sehingga tercipta kesetaraan.
Internet
memfasilitasi setiap publik yang ada didalamnya untuk saling
berkomunikasi dan berinteraksi tanpa ada status vertikal dan horizontal.
Dalam internet hanya dikenal istilah sumber dan yang menerima.
Ketidakadan garis vertikal akan semakin membuat setiap publik dalam
internet untuk semakin berani dan bebas dalam mengemukakan pendapatnya.
Contohnya, pada zaman internet belum membooming tidak ada satupun yang
berani mengkritik menteri secara langsung. Tapi sekarang apa yang
terjadi, banyak masyarkat yang berani secara langsung mengkritik
Menkominfo Tifatul Sembiring melalui akun twitternya.
· Komunikasi yang bersifat langsung tanpa perantara (kecuali media itu sendiri).
Internet
memiliki banyak produk yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi
secara langsung antara pihak yang terlibat didalamnya. Misalnya saja
ketika anda ingin menyampaikan keluh kesah mengenai kinerja pemerintah
kepada tim kepresidenan RI. Sebelum adanya internet ini sangat susah
untuk dilakukan, tetapi dengan adanya internet anda cukup mengirim
sebuah email yang berisi keluh kesah terhadap kinerja pemerintah yang
ada sekarang.
· Biaya yang murah dalam mendapatkan informasi
Selain
kemudahan yang ditawarkan, internet juga menawarkan biaya yang lebih
murah. Karena cukup bermodalkan biaya internet, anda yang tinggal di
Aceh tidak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menyampaikan keluh
kesah kepada tim keprisidenan, dimana itu akan memakan biaya yang cukup
besar.
· Kontak secara langsung dan hilangnya batasan terhadap kontak
Kontak
secara langsung dan hilangnya batasan terhadap kontak hanya berlaku
pada beberapa produk dari internet. Karena terkadang tidak semua publik
dalam kehidupan nyata langsung mengurusi identitasnya didunia maya.
Contohnya, Presiden SBY tidak mungkin secara langsung mengurus personal
twitter atau websitenya di internet. Semua indetitas di dunia maya
dikelola oleh pihak yang secara professional di hire oleh Presiden SBY.
Internet
sebagai salah satu efek dari kemajuan teknologi merupakan suatu media
yang mempunyai efek positif dan negatif, dimana kita harus bijak
menggunakannya agar dapat meminimalisir efek negatif yang ada. Selain
itu, untuk meminimalisir efek negatifnya kita membutuhkan pihak ketiga
yang netral (baik pemerintah maupun peraturan) untuk melakukan
pengawasan. Sehingga kita bisa tetap bebas mengemukakan pendapat tanpa
mengganggu hak orang lain, atau istilah kerennya mari kita wujudkan
kebebasan pendapat yang bertanggung jawab.
Komunikasi
informasi berkembang sangatlah cepat dan telah menyusul dengan pesat
hingga pada kecanggihan yang diciptakan oleh pemilik gagasan. Masyarakat
di seluruh dunia dapat menikmati kecanggihan teknologi komunikasi dan
informasi melalui media komunikasi yang telah diciptakan dan ditemukan
oleh para ahlinya. Di jaman modern seperti sekarang ini, masyarakat
telah mengenal beragam teknologi diluar media tradisional seperti mobile
phone, internet, social network, blog, dan masih banyak lagi.
Teknologi
sebagai media komunikasi memiliki dampak luas, yang membawa nilai
positif maupun negative bagi si penggunanya. Dalam hal positifnya,
teknologi komunikasi mempermudah jangkauan komunikasi manusia satu
dengan yang lainnya tanpa ada penghalang yakni ruang, waktu dan jarak.
Atau dengan kata lain media komunikasi saat ini sudah menjadi sebuah
istilah 'Global Village' atau dusun semesta.
Adapun
dampak negatif dari teknologi sebagai media komunikasi adalah
fragmentasi sosial yang secara negative, yakni adanya hambatan
sosialiasi dengan sesamanya. Misalnya masyarakat cenderung bersifat
individualistik dan cuek kepada lingkungan sekitarnya karena terlalu
berlebihan dalam menggunakan media komunikasi (Blackberry, internet,
jejaring sosial, dan lain-lain).
Budaya
akan teknologi dapat diartikan sebagai perilaku (behaviour) dan
kebiasaan (habit) hidup masyarakat dalam pemanfaatan teknologi untuk
mencapai tujuan dan makna kehidupan sehari-hari. Terbentuknya komunitas
baru pengguna teknologi, sebagai akar lahirnya kultur baru dalam
masyarakat.
Ketergantungan
satu sama lain dalam sebuah komunitas sosial masyarakat, mengharuskan
kita menyesuaikan diri. Jika dalam satu komunitas tertentu telah
menggunakan teknologi sebagai solusi kehidupan mereka, mau tidak mau
individu yang berhubungan dengan komunitas tersebut akan mengikutinya.
Sebagai contoh bahwa setiap orang sangat mudah memiliki sebuah alat
komunikasi yang disebut handphone, dimana dulu sekitar tahun 1995,
Handphone (HP) merupakan alat mewah yang sulit dimiliki oleh setiap
orang, karena selain harga mahal dan juga karena penggunaannya yang
dianggap terlalu canggih, belum layak untuk dimilki setiap orang. Tetapi
sejalan dengan waktu dan tuntutan komunikasi antar personal yang
didorong juga oleh gaya hidup, maka alat ini (HP) telah menjadi alat
yang hampir setiap orang di kota besar (sudah mulai merambah di
desa-desa) telah memilikinya.
Perilaku
masyarakat menggunakan alat bantu telekomunikasi itu, menjadi ‘habit’
(kebiasaan) bahkan telah menuju tingkat kebutuhan primer, artinya
ketergantungan terhadap alat komunikasi ini sangat tinggi. Handphone
yang diartikan juga sebagai telepon genggam, sekarang ini sudah tidak
dipandang sebagai alat yang istimewa karena alasan life style (gaya
hidup). Tetapi alasan untuk memilikinya adalah untuk kepentingan bisnis,
efesiensi dan efektifitas berkomunikasi.
Kesimpulan
penulis atas budaya dan teknologi media baru adalah budaya merubah pola
kehidupan manusia menjadi digitalisasi massal dalam setiap segi
kehidupan terutama dalam hal berkomunikasi. Digitalisasi ini membuat
sebuah kehidupan lama menjadi baru atau modern. Namun demikian ada
nilai-nilai yang terabaikan dari era digitalisasi ini. Kembali ke peran
manusia untuk memikirkan solusi agar digitalisasi ini menjadi hal yang
positif.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق